Ayah yang Sabar vs Ayah yang Disiplin Instan


Ayah yang Sabar vs Ayah yang Disiplin Instan

Menjadi seorang ayah memang harus sabar, dan memiliki alasan yang tepat untuk membujuk anak, agar anak berhenti menangis, agar anak berhenti merengek. Banyak cara untuk mengerti perasaan anak, bukan memaksa anak mengerti keinginan kita. Kita sebagai orang tua tidak harus memanjakannya, anak juga harus dilatih untuk bersabar dan mengerti bahwa tak selalu apa yang menjadi keinginannya dituruti. Karena terlalu memanjakan anak , menuruti semua kemauan anak itu juga tidak baik. Berikut kisah ayah yang sabar menghadapi anak dan ayah yang disiplin instan dalam menghadapi anak...


Kisah Sang Ayah yang Baru Belajar Sabar

Anak: “Beli mainan”
Ayah: “Kan udah perjanjian gak beli mainan tadi sebelum pergi”
Anak: “Beli!!!!”
Ayah: “Enggak nak, maaf ya. Tadi janjinya gak beli mainan”
Anak: “Huaaa..huaaa”
Ayah: "Ade nangis ya, papa gak bolehin beliin mainan itu, tapi tetep gak boleh ya nak karena sudah janji hari ini gak beli mainan”. ( “Jurus” ke-1: #TeknikEmpati pada perasaan anak dulu. Manfaat: anak yang sudah merasa dimengerti akan lebih berkurang minta ini-itu-nya dan lebih terbuka pada arahan). Katakan ini sambil jongkok. Mata anak sejajar mata kita.
Anak: (masih menangis meraung-raung)
Ayah: (mulai panik seisi mall melihat. Tarik napas dalam). “Iya nak, kesel ya papa gak beliin. kesel ade?”.(nada bicara biasa saja sambil empati)
Ayah: (Masuk jurus 2, alternatif pengganti yang sesuai dengan aturan awal) “Kalau mainan gak boleh nak, tapi beli makanan papa kasih” .
Ayah: (Biarkan anak menangis, jika tidak memukul bisa dipeluk saja dulu. Jika meraung sambil memukul baiknya dibawa ke mobil dulu, sambil tahan tangannya agar tidak memukul)
Ayah: (masih menunggu anak reda nangisnya tetap duduk saja sambil “nikmati” tangisannya) “Iya nak, kesel iya”. (Sesekali katakan itu, sesekali saja).
Ayah: (masih menemani ia dalam tantrumnya...)
Anak: (1 jam kemudian tangisan reda)
Ayah: Iya nak kesel ya, papa gak kasih mainan. Sekarang, kita istirahat di rumah atau ke dalam mall lagi beli makanan kesukaan ade?( Kalau dia gak jawab mungkin istirahat pilihan yang lebih baik).

Baca Juga : 8 Cara Menghentikan Tangisan Bayi


Kisah Sang Ayah Penyuka Disiplin Instan

Anak: “Beli mainan”
Ayah: “Kan udah perjanjian gak beli mainan tadi sebelum pergi”
Anak: “Beli!!!!”
Ayah: “Enggak nak, papa kan udah bilang gak beli mainan tadi. Kok udah janji. Gak ditepatin” (mulai menjelekkan anak)
Anak: “Huaaa..huaaa”
Ayah: “Diem, dimainan itu ada tikusnya tauuu”. (Membohongi anak)
Anak: (Makin nangis)
Ayah: “Eh kok gitu sih. Yauda papa tinggal ya disini (Ancaman yang mungkin mempan kali ini tapi lain kali, anak tetap akan berperilaku sama)


Anak mudah untuk move on ke hal lain karena tahu orangtuanya sudah mengerti perasaannya. Itulah sebenarnya kebutuhan terdalam anak: orangtua memahami perasaanya, bukan mainannya.

Semoga bermanfaat

0 Response to "Ayah yang Sabar vs Ayah yang Disiplin Instan"

Posting Komentar