Advertisment

Pilih Mana Kredit atau Cash ?



Pilih Mana Kredit atau Cash ?

Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan, berdasarkan kesepakatan pinjam meminjam antara pihak bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melaksanakan dengan jumlah bunga sebagai imbalan. 

Kata kredit berasal dari bahasa latin credere yang artinya kepercayaan. Tapi di masyarakat, kredit sering diartikan dengan pinjaman. Artinya, seseorang yang mengajukan kredit sama saja mendapat pinjaman. Hanya yang jelas, kredit itu dimaknai sebagai perjanjian suatu jasa dan adanya balas jasa di masa depan.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), kredit memiliki 4 definisi yakni:
  • Cara menjual barang dengan pembayaran secara tidak tunai (pembayaran ditangguhkan atau diangsur)
  • Pinjaman uang dengan pembayaran pengembalian secara mengangsur
  • Penambahan saldo rekening, sisa utang, modal, dan pendataan bagi penabung
  • Pinjaman sampai batas jumlah tertentu yang diizinkan oleh bank atau badan lain

Dari semua definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kredit adalah metode pembayaran barang atau hutang dengan cara dicicil dalam kurun waktu tertentu sesuai kesepakatan kedua belah pihak yaitu antara penjual dan pembeli. Namun biasanya barang yang dijual dengan kredit memiliki harga lebih mahal daripada dibayar secara tunai.

Pandangan Islam tentang Kredit

Dalam bahasa arab, jual beli kredit dikenal sebagai Bai’ bit taqsith yang berarti membagi sesuatu menjadi beberapa bagian tertentu. Ulama syafiiyah, hanafiyah, Al-Muayyid billah, serta mayoritas ulama lain berpendapat bahwa hukum kredit dalam islam diperbolehkan. Hal ini didasarkan pada beberapa hal, yakni:

Tidak adanya dalil yang mengharamkan kredit
Alasan pertama mengapa kredit diperbolehkan karena tidak ada dalil yang mengharamkan hukum kredit. Ini juga beracuan pada kaidah ushul fiqhi yang menyatakan bahwa “Asal dari hukum sesuatu adalah mubah (boleh). Sampai ada hukum yang mengharamkan atau memakruhkannya.”

Perlu diketahui, mengharamkan sesuatu tanpa dalil yang kuat itu tidak diperbolehkan. Sama saja dengan menghalalkan perkara yang haram.

Firman Allah yang membolekan Utang Piutang
Praktik kredit sama dengan utang piutang. Sedangkan Allah Ta’ala juga membolehkan hukum berhutang piutang. Asalkan tidak ada unsur penambahan bunga. Ini dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 282:

“Hai orang-orang yang beriman. Apabila kamu berhutang  dalam waktu yang ditentukan hendaklah kamu menuliskannya.  Dan hendaklah seorang penulis diantara kamu menuliskannya dengan benar. Maka jangan lah penulis menolak menuliskanya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya. Dan hendaklah orang yang berutang itu mendiktekan. Dan hendak lah ia bertaqwa kepada Allah, tuhannya dan janganlah ia mengurangi sedikit pun dari  padanya.


Jika orang yang berhutang itu lemah akal nya atau keadaannya atau tidak mampu mendiktekan sendiri maka hendaklah walinya mendiktekannya dengan benar. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki diantara kamu. Jika tidak ada maka boleh seorang laki-laki dan dua orang perempuan dari orang- orang yang kamu sukai diantara mereka. Agar jika seorang lupa maka yang lain lagi mengingatkan. Dan janganlah saksi itu menolak jika dipanggil. Dan janganlah kamu bosan menuliskannya untuk waktunya baik hutang itu besar atau kecil. Yang demikian itu lebih adil disisi Allah. Lebih dapat menguatkan persaksian, dan lebih mendekatkan kamu kepada ketidakraguan.

(Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak menulisnya. Dan ambillah saksi apabila kamu berjual beli, dan janganlah penulis dan saksi dipersulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS : Al-Baqarah: 282)

Hadist Shahih tentang Rasul yang Pernah Berhutang

Dibolehkannya transaksi dengan kredit juga didasarkan pada hadist shahih yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membeli makanan dengan cara berhutang.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membeli sebagian bahan makanan dari seorang Yahudi dengan pembayaran dihutang dan beliau juga menggadaikan perisai kepadanya.” (HR. Bukhari d an Muslim)

Contoh Kasus Kredit Motor atau Beli Motor Cash ?

Sebelum anda memilih antara Kredit atau Cash ada baiknya anda mendengarkan kisah berikut
antara orang yang bermental Kaya dan orang yang bermental miskin yang sama-sama ingin membeli motor. Bagaimana ceritanya? simak baik baik cerita ini :

Mental miskin (MM): beli motor baru seharga Rp 18 juta dg kredit selama 3 tahun. Total jumlah yg dibayar Rp 30 juta (termasuk bunga, asuransi dll). Cicilan per bulan Rp 800 ribu.

Mental kaya (MK): menyimpan Rp 800 ribu sebulan selama 1 tahun 3 bulan menjadi total Rp 12 juta. Uang tsb untuk membeli secara tunai motor second yg sudah 2 tahun yg kondisinya masih baik.

Kondisi dan kenyamanan motor baru dg motor second 2 tahun tidak terlalu jauh berbeda, tetapi harganya (apalagi MM membeli kredit sedangkan MK beli tunai) berbeda jauh yakni Rp 18 juta (Rp 30 juta dikurangi Rp 12 juta). Selisih dana ini bisa digunakan untuk investasi.

Mental miskin menikmati motor baru dahulu, membayar belakangan dg harga yg jauh lebih mahal dg cicilan selama 3 tahun. Mental kaya membayar (menabung) selama 1 tahun lebih dahulu, kemudian baru menikmati motor dg perasaan tenang tanpa ada cicilan.


Nah anda pilih yang mana bermental Kaya atau Bermental Miskin ? anda memilih mana? kredit dengan berbunga atau cash ? membayar bunga utang atau membayar secara cash ? tinggal anda pilih sendiri karena anda yang akan menanggung apa yang anda lakukan.

Semoga bermanfaat.
Jika ada kritik dan saran silahkan tulis di kolom komentar !!!


0 Response to "Pilih Mana Kredit atau Cash ?"

Posting Komentar