Advertisment

Sejarah Kado Natal


Sejarah Kado Natal

Meski kebiasaan ini bukan esensi dari Hari Raya Natal, kebiasaan untuk tukar menukar kado pada sanak-saudara dan teman-teman pada hari Natal kemungkinan bermula di Romawi Kuno dan Eropa Utara. Di daerah-daerah tersebut, orang-orang memberikan hadiah pada satu sama lain sebagai bagian dari perayaan akhir tahun.

Kalender masehi menetapkan 25 Desember sebagai hari raya keagamaan Kristen maupun Katholik, maka hari tersebut ditetapkan sebagai hari libur resmi. Dalam bahasa Inggris, kata Christmas (Hari Natal) dipastikan berasal dari kata Cristes maesse, frasa dalam bahasa Inggris yang berarti Mass of Christ (Misa Kristus). Kadang-kadang kata Christmas disingkat menjadi Xmas. Dalam bahasa Yunani, X adalah kata pertama dalam nama Kristus (Christos). Huruf ini sering digunakan sebagai simbol suci. Tradisi Natal diawali oleh Gereja Kristen terdahulu untuk memperingati sukacita kehadiran Juru Selamat "Mesias" di dunia. Sampai hari ini, Hari Raya Natal adalah hari raya umat Kristen di dunia untuk memperingati hari kelahiran "Raja Damai" Yesus Kristus. Secara tarikh, tidak ada tanggal berapa tepatnya hari lahir Kristus, namun kalender masehi telah menetapkan tanggal memperingati/merayakan Hari Natal pada tanggal 25 Desember. Pada hari itu, gereja kemudian mengadakan ibadah perayaan keagamaan khusus. Selama masa Natal, umat Kristen mengekspresikan cinta-kasih dan sukacita mereka dengan bertukar kado dan menghiasi rumah mereka dengan daun holly, mistletoe dan pohon Natal.

Baca Juga: 16 Ide Kado Natal 2018

Sejarah kado natal zaman dahulu

Kebanyakan orang saat ini menganggap bahwa kebiasaan memberi kado pada hari Natal berasal dari persembahan orang Majus kepada Yesus. Tentu saja hadiah-hadiah ini, serta perjalanan panjang dan penuh resiko yang ditempuh para pemberinya, adalah contoh-contoh pemberian dan pengorbanan yang mengagumkan bagi orang Kristen saat ini. Akan tetapi, ada kisah rumit dibalik berubahnya persembahan ketiga orang majus ini menjadi kebiasaan yang memermak industri perdagangan di saentro dunia setelah seribu sembilan ratus tahun kemudian.

Bahkan sebelum Kristus dilahirkan, ada kebiasaan tukar kado saat upacara Romawi, Saturnalia. Pada hari raya "perpindahan musim" kuno ini, orang-orang yang menukarkan kado percaya bahwa kebaikan mereka akan membuat mereka beruntung pada tahun mendatang. Selama abad kekristenan mula-mula, orang yang baru memeluk agama Kristen masih sering merayakan tradisi dan perayaan Romawi ini. Mereka masih membeli dan menukarkan kado saat Saturnalia. Pada abad ke-4, saat tanggal 25 Desember ditetapkan sebagai hari peringatan kelahiran Kristus, perayaan Saturnalia mulai redup. Karena tanggal resmi Natal jatuh pada periode yang sama dengan perayaan Romawi, mungkin saja beberapa orang Kristen menerapkan kebiasaan tukar kado saat merayakan kelahiran Kristus. Akan tetapi, kebiasaan tukar kado saat itu tidak berakar pada tradisi itu. Pada masa itu, hadiah dan Natal tidak saling terkait, dan kebiasaan itu lenyap saat perayaan Saturnalia dihiraukan.

Akan tetapi, tradisi Roma yang terus berlangsung pada periode tersebut adalah kebiasaan memberi kado Tahun Baru. Tukar kado pada hari pertama tahun baru terus berlanjut selama Abad Kegelapan dan Abad Pertengahan dan sampai pemerintahan ratu Victoria. Tradisi memberi kado inilah yang akhirnya menyatu dengan tradisi memberi kado pada hari Natal, tetapi ada beberapa peristiwa lain yang menyebabkan penyatuan itu terjadi.

Legenda Santo Nicholas, yang menjadi uskup di Myra di awal abad keempat, adalah mata rantai pemberian kado berikutnya. Legenda menuturkan bahwa selama hidupnya pastor itu berkeliling melewati Asia Kecil dan memberikan kado-kado kepada anak-anak miskin. Santa Klaus dan kaus kaki Natal dapat ditelusuri langsung dari kisah kehidupan Nicholas. Dia sangat dihormati dan dikasihi oleh mereka yang mengenalnya, sehingga peringatan kematiannya pada tanggal 6 Desember, menjadi hari untuk memberikan kado-kado istimewa bagi anak-anak. Jadi selama abad Pertengahan, Hari Santo Nicholas adalah hari yang paling menyenangkan bagi ribuan anak-anak Kristen di Eropa Timur dan Tengah.

Memberi kado kepada anak-anak memang merupakan tindakan yang murah hati. Akan tetapi, banyak juga pemimpin Eropa yang memelajari persembahan orang Majus kepada Yesus dalam Alkitab. Mereka benar-benar mengabaikan teladan Nicholas, dan memutarbalikkan Alkitab supaya sesuai dengan keinginan-keinginan egois mereka. Mereka menggunakan Alkitab sebagai alasan dibalik pungutan mereka. Banyak raja dan ratu di Eropa menulis hukum bahwa masyarakat perlu menyediakan persembahan Natal setiap tahun kepada penguasa mereka. Sebab itu, setiap orang yang paling miskin pun di Eropa wajib memberikan milik mereka yang terbaik kepada keluarga terkaya di wilayah mereka setiap tahun pada tanggal 25 Desember. Kemudian, keluarga jauh kerajaan dan pejabat daerah yang diangkat meminta upeti Natal juga. Orang-orang miskin secara terang-terangan diperdaya dalam nama iman Kekristenan. Bahkan gerejapun perlu membayar penguasa. Jadi, alih-alih menjadikan natal waktu perayaan dan sukacita, tuntutan kaum elit Eropa ini menodai makna "kado Natal". Pada abad kesepuluh, seorang bangsawan Bohemian, dikenal juga sebagai King Wnceslas, mulai mengubah kebiasaan upeti natal ini. Alih-alih memungut upeti dari warganya, Wenceslas meniru peranan orang-orang majus. Dia mengelilingi kerajaannya selama hari perayaan dan membagikan kayu bakar, makanan, dan pakaian. Bangsawan yang menjangkau kaum papa setiap tahun itu menginspirasi banyak orang di wilayahnya untuk melakukan hal serupa.

Jika Artikel ini bermanfaat silahkan di share
jika ada kritik dan saran silahkan tulis di kolom komentar !!!


0 Response to "Sejarah Kado Natal"

Posting Komentar