Orang Rajin Maksiat Tapi Kok Rejeki Melimpah



Orang Rajin Maksiat Tapi Kok Rejeki Melimpah

Bisa jadi ada yang mendapatkan limpahan rezeki namun ia adalah orang yang gemar maksiat. Ia tempuh jalan kesyirikan dan benar ia cepat kaya. Ketahuilah bahwa mendapatkan limpahan kekayaan seperti itu bukanlah suatu tanda kemuliaan, namun itu adalah istidraj. Istidraj artinya suatu jebakan berupa kelapangan rezeki padahal yang diberi dalam keadaan terus menerus bermaksiat pada Allah.

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ

“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad )

Banyaknya nikmat atau kurangnya nikmat duniawi yang diterima seorang hamba bukanlah menjadi ukuran bahwa Allah ta'ala telah memuliakannya dibanding yang lainnya. Bahkan bisa jadi, banyaknya nikmat duniawi justru dapat menjadikan seseorang lupa akan hakikat penciptaannya.

Allah ta'ala dalam firman-Nya menyindir orang-orang yang menyangka bahwa keberadaan nikmat adalah ukuran kemuliaan seseorang di hadapan-Nya.

Allah ta'ala berfirman, "Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku". Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku". Sekali-kali tidak (demikian)." 
(QS. Al-Fajr: 15-17)

Artinya, tidak semua orang yang Allah karuniakan nikmat dan lapangkan rezeki untuknya, Allah memuliakannya. Tidak pula setiap orang yang Allah timpakan ujian kepadanya dan sempitkan rezekinya Allah kemudian menghinakannya. Bahkan sejatinya, Allah ta'ala akan mengujinya dengan kenikmatan dan Allah muliakan yang lainnya dengan ujian.

Peluang terjatuhnya seorang mukmin dalam istidraj juga selalu terbuka. Mungkin bukan dengan bentuk bergelimangnya nikmat secara langsung, tetapi dalam bentuk lainnya.

Tidakkah kita merasakan beratnya sebuah ketaatan? Tidakkah kita merasa lemah di hadapan hawa nafsu dan syahwat? Tidakkah kita merasa ringan untuk berghibah, namimah dan dusta? Tidakkah kita merasa berat untuk menghadiri shalat berjamaah di masjid? Tidakkah kita tersibukkan pada hal yang tidak bermanfaat dan menghabiskan waktu? Hukuman mana yang lebih banyak dari itu? Sungguh, ini semua adalah tipuan. Bisa jadi, semua ini adalah bentuk hukuman dari Allah ta'ala, hukuman sebagai bentuk istidraj dari-Nya.

Maka dari itu, kita perlu introspeksi diri sejak saat ini. Jika saat ini kita diberikan kemudahan dalam hal rezeki, karier, kecemerlangan dalam berfikir, kelapangan dalam hidup, maka selain mengucap syukur kepada Allah ta'ala, kita pun tetap perlu waspada.

Apakah benar ini sebuah ni’mah (kenikmatan) ataukah sebuah niqmah (malapetaka)?

Abu Hazim Salamah bin Dinar Al-A’raj rahimahullah berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah petaka.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam Asy-Syukr Lillah).

Jika Artikel ini Bermanfaat Silahkan di share
Jika ada kritik dan saran silahkan tulis di kolom komentar !!!


0 Response to "Orang Rajin Maksiat Tapi Kok Rejeki Melimpah"

Posting Komentar