UYGHUR PERSEKUSI AGAMA DIBALUT ISU SEPARATISME


UYGHUR : PERSEKUSI AGAMA DIBALUT ISU SEPARATISME

Ada seorang mengaku santri berinisial NB yang kebetulan belajar di Cungkuo menulis ”surat terbuka” di media blog online menyayangkan kenapa Jumat kemarin ada unjuk rasa solidaritas HMI dan sejumlah massa kelompok Islam untuk Uyghur di depan kedubes Cungkuo. Di dalam tulisannya yang dibuat sefaktual dan seintelektual mungkin, beliau uraikan fakta konstitusi Cungkuo, sejarah kesukuan dan riwayat aksi separatisme dari era dinasti-dinasti terdahulu di Cungkuo. Simpulannya: dukung Uyghur sama dengan dukung pemberontakan.

Insting saya mengatakan sebentar lagi “surat terbuka” beliau bakal laris disebartularkan. Mengapa? Karena dalam tabayyun saya dan background check terhadap si penulis (kebiasaan ilmiah yang sudah mendarah daging), beliau produktif menulis artikel yang berseberangan dengan capres oposisi; bahkan tulisan bagusnya yang saya bahas ini pun dia downgrade sendiri kadar intelektualitasnya dengan selorohan “Hulaihi” seperti serangan nyinyir seorang ABG alay saat kalah saingan gebetan cowok. Jelas ini akan jadi nasi bungkus yang lezat untuk dilahap para cebi demi menjustifikasi keheningan sikap junjungannya dan arah haluan sikap negara terhadap Muslim Uyghur.

Kita tinggalkan dulu nasi bungkusnya. Fakta-fakta yang dia sampaikan memang benar dan akurat —sebagai seorang penikmat ilmu sejarah yang obyektif saya pun mengakui itu. Konstitusi Cungkuo di dalam Artikel 36 menjamin kebebasan warga negara untuk beragama apapun, bahkan untuk tidak beragama. Yang penulis kelilipan dari pembahasannya adalah sejauh mana kebebasan beribadah individu di dalam realitasnya di Cungkuo sana. Direktur Human Rights Watch China, Sophie Richardson mengatakan di dalam artikel resminya:

“...while religious belief in China is protected by the constitution, the measures do not guarantee the right to practice or worship. Religious practices are limited to normal religious activities, although “normal” is left undefined and can be broadly interpreted (by the government).” (boleh dibaca lebih detail: https://www.cfr.org/backgrounder/religion-china)

Saat si penulis berusaha membentuk opini dan mendekorasi fakta tulisannya bahwa Uyghur adalah Separatisme dibalut Agama (sambil menyindir aktivitas Islam di Indonesia), saya bisa sanggah itu dengan sajian fakta dan data versi saya bahwa Cungkuo sebenarnya sudah sangat biasa membuat Pemberangusan Identitas Agama dengan balutan isu Separatisme. SEMUA AGAMA yang tak selaras dengan Partai Komunis Cina (CCP). Mau bukti? Umat Kristiani pun dipersekusi. Banyak gereja dirubuhkan rata dengan tanah (NY Times 12 Januari 2018, CBN News 18 Juli dan 30 September 2018, VOA News 7 September 2018), 7000 salib dan Bibel dibakar di Henan (Daily Mail 10 September 2018, Express News 17 September 2018). Sebegitu banyak fakta terserak di depan mata si penulis selama setahun terakhir tetapi tidak dia angkat ke dalam referensi tulisannya.

Hati kecil saya pun merasa sedih jika landas pijakan si mas penulis hanya sekedar demi pembenaran arah politis tertentu. Apalagi kalimat tendensius “seorang SANTRI yang sedang belajar di negeri Cina” ditambahkan redaksi sebagai mahkota dan jubah kebesaran yang mengawali tulisan beliau. Di luar itu, saya menjadi berhipotesis si mas santri mungkin belum berhaji ke tanah suci. Saat saya berhaji 10 tahun silam, saya banyak berjumpa Muslim dari Cungkuo yang semuanya berusia sepuh dan bertongkat —baik yang berwajah Turk (Uyghur) maupun yang sipit (Hui). Semua bertutur hal yang sama, betapa beruntungnya saya bisa berhaji di usia 32 tahun —di Cungkuo hanya Muslim lansia yang dapat official permit untuk berhaji berdasar asumsi pemerintah tidak lagi mampu berdaya upaya sebagai pendakwah atau influencer. Paranoid CCP bahkan sampai harus menyematkan 12 ribu lansia jamaah haji asal Cungkuo tahun ini dengan kartu chip GPS (Wall Street Journal, 31 Juli 2018). Berani haji gelap alias unsanctioned hajj? Bersiaplah dihukum mati. Sedemikian tangan besinya pemerintah Cungkuo. Islam di suku Hui pun dikaburkan, masjid haram berkubah dan kaligrafi Arab dilarang resmi oleh pemerintah.

Jadi, saat Anda berjumpa dan membaca sebar tular tautan “surat terbuka” yang saya maksudkan di sini, Anda tidak perlu goyah. Saya bukan santri, apalagi ustadz, apalagi ulama. Saya hanya manusia biasa yang sempat menuntut ilmu di Cungkuo meski cuma sebentar, hanya seorang pemulung amal yang masih doyan ke kafe, nonton liga Inggris atau nonton konser seperti Anda. Tetapi di saat ucap dan sikap kita kelak akan dihisab dan dipertanggungjawabkan, selemah-lemahnya kita semua dalam diam tak berdaya pun akan dihisab kadar kebajikan dan kebakhilannya. So, I stand with the Uyghurs, how about you?

#saveuyghur

Semoga artikel ini bermanfaat
Jika ada kritik dan saran silahkan tulis di kolom komentar !!!



0 Response to "UYGHUR PERSEKUSI AGAMA DIBALUT ISU SEPARATISME"

Posting Komentar