Advertisment

Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah


Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah

Ceritanya Begini...Malam itu saya dan istri saya sedang di kamar berdua. Sayang kita masih ada tunggakan yang harus dibaya kata istri malam itu sebelum ia tidur, memberi informasi yang bisa membuat saya nightmare alias mimpi buruk.
"Berapa?" tanya Saya tanpa menoleh, sibuk dengan layar hape.
"5 juta" jawabnya kalem.
"Cuma lima juta? Hahaha.kok banyak banget. Saya bereaksi ala Srimulat, walau sebenarnya cukup tercekek. Try to find humour in difficult situation, ini kadang cara Saya ketika menghadapi persoalan.
Selalu berupaya mencandai istri soal apa saja.

"Trus, Kapan batas akhir pembayaran?"
"3hari lagi"
"Baiklah, kasih Saya kesempatan berpikir ya." tawar Saya kemudian.

Malam itu Saya mulai konsentrasi dan berpikir keras. Sambil berharap tak berpikiran kotor untuk menghalalkan segala cara naudzubilah. Mengingat tiga hari bukan waktu yang banyak buat Saya untuk cari duit segitu.

Sebagai pedagang, kami hampir tak pernah pegang duit lama, selalu diputar kembali jadi modal usaha. Tabungan juga sudah punya alokasi masing-masing, sementara di dompet cuma ada beberapa lembar puluhan saja.


Dalam keadaan begini, menyesalkah Saya berhenti jadi karyawan yang selalu punya duit simpanan?
Tentu tidak akan mengubah keadaan. Inilah dinamika kehidupan. Semua sudah ada jalannya masing-masing. Ketentraman hati tak bisa ditukar dengan materi. 


Jangan pernah menyesali yang sudah terlanjur, jangan menyesali langkah benar yang kau ambil, seperti kata pepatah "Nasir sudah jadi tukang bubur". Jangan pula suka menyalahkan sebab atas suatu keputusan, seperti kata lagu "mencari kebab tanpa mencari pak Hasan"

Untunglah dapat istri pengertian. Yang  tak pernah ribut masalah keuangan. Sebaik-baik istri adalah yang wajahnya tetap bercahaya di tanggal tua, cahaya alami tanpa bedak. yang selalu berkata manis kepada suaminya, jarang marah-marah dan jauh dari sebutan BOJO GALAK. Mohon jangan dicari dalilnya, karena itu cuma karangan Saya.

Malam itu dalam kegelapan wajah istri saya memang tampak memancarkan cahaya.
Cukup mengejutkan sebelum Saya sadari cahaya itu pantulan dari layar hapenya. Ternyata ia juga tak bisa tidur dengan keresahan yang sama atau mungkin dia lagi asik stalking fb atau instagram saja hahaha.

Sehari dua hari, belum ada tanda-tanda dan peluang datangnya rejeki. Dikebut pun jualan, tak akan bisa mencapai target hingga deadline. Kami lalu diskusi dan merancang beberapa opsi, plan A dan plan B. Kalau sekiranya dua-duanya gagal, masih ada alfabet C sampai Z. Kecuali semua gagal, maka saatnya kita coba plan berikutnya yaitu plan-pelan nangis baersama.

Kami usahakan sedapat mungkin jangan sampai ada pilihan ngutang. Utang atau pinjam uang mungkin jadi solusi terakhir namun itu juga masih bukan solusi karena itu hanyalah menunda dan menumpuk masalah saja , ibarat bom waktu yang lama lama bisa meledak. Harus ada usaha diiringi doa. Karena kalau cuma ongkang-ongkang kaki lantas jadi duit itu cuma pekerjaan tukang jahit eh ga juga sih kan sekarang tukang jahit jahitnya pakai mesin jahit listrik jadi tinggal di injak saja tidak perlu di goyang-goyang hahaha.

Lambat laut pusing mulai menyerang kepala namun saya teringat QS az-Zumar: 53, jangan berputus asa dari rahmat Allah. Saya tiba-tiba mengajak istri ikut daurah, qadarullah ada ustad yang sedang safari dakwah.
"Ada orderan nih, Sayang Orangnya minta dikirim sore, gimana?" ujar istri.
"Tinggalkan saja sayang kata Saya. "kita close order dulu hari ini sudah cukup segini aja dulu orderan untuk hari ini, sampaikan maaf, dan bilang saja besok order lagi aja insyaallah dilayani" Bermuammalah itu sunnah, tapi tholabul ilmi faridhatan ala kulli muslim, batin Saya.


Di masjid tempat daurah, belum juga sempurna posisi duduk Saya, hape bergetar, Saya pun keluar.
"Pak bisa ke rumah? atau Saya yang datang ke rumah Bapak?" tanya suara di seberang sana, suara seorang ibu yang punya tunggakan hutang piutang pada Saya. Jumlahnya tak sedikit tapi sudah lama Saya ikhlaskan.

Ada apa, Bu? respon Saya ogah-ogahan, mengingat Saya sedang serius mengikuti kajian.
Saya mau bayar utang, Pak. Tapi mohon maaf kesanggupan Saya cuma 5 juta. Andai dia masih gadis mungkin Saya balas dengan berkata "bapak kamu tukang CCTV ya? kok tau apa yang ada di hati Saya? eeeaaa...

Dan demikianlah, pulang dari daurah Saya bergegas menjemput rejeki itu ke rumahnya.
Alhamdulillah, QS az-Zumar ayat 53 sepertinya sudah bekerja dan menjadi kenyataan.

Sekali lagi, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah Kita adalah hamba dari Dia yang Maha Kuasa, tanamkan itu dalam hati saat merasa tak berdaya. Kita adalah hamba dari Dia yang Maha Kaya, buatlah diri menjadi yakin agar tak sempat merasa sebagai orang yang missqueen.

Jika artikel ini bermanfaat silahkan di share kepada teman, saudara maupun keluarga anda.
Jika ada kritik dan saran silahkan tulis di kolom komentar



0 Response to "Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah"

Posting Komentar