Advertisment

Kisah Seorang Guru Ngaji di Sebuah Langgar


Kisah Seorang Guru Ngaji di Sebuah Langgar

Nama beliau Pak Burhanuddin. Warga desa kami memanggil dengan sebutan Pak Bur atau Kaji Burhan, sudah  beberapa tahun lalu beliau wafat. Beliau semasa hidupnya mengampu mushola kecil (kami menyebutnya Langgar Lor/mushola Utara). Dibantu beberapa murid senior beliau mengajar mengaji. Waktu itu aku dan teman2 seusia SMP mengikuti pengajian beliau. Ilmu Nahwu, Shorof, Kitab Bidayatul Hidayah dan sederet kitab lainnya yang dipelajari. Walaupun aku sendiri sungguh kesulitan memaknai Arab Pegon yang menjadi aksara dalam literatur tersebut.

Satu2nya hal yang membuat ku mudah mencernanya adalah kelembutan tutur bahasa Sang Guru.  Suatu ketika beliau berpesan (dan ini lah yang menjadi titik tekan dari tulisan ini). Kurang lebih intinya "Kalian harus hati-hati dalam belajar (teks-teks) agama. Jika sekarang sembrono maka kalian akan salah dalam mengambil ilmunya. Lalu mengajarkan kpd orang lain, orang lain tersebut juga mengajarkan kepada orang berikutnya. Maka kesalahan kalian akan menyebar ke masyarakat luas dan ALLOH akan meminta pertanggungjawaban atas kesembronoan kalian tersebut".


Mari kita telaah dan renungkan tentang kehati-hatian para ulama terdahulu, para kyai dan guru ngaji kita dulu. Sejak kecil ada yang sudah mondok di berbagai pesantren hingga mereka dewasa. Berbagai disiplin ilmu mereka kaji secara intensif. Hal tersebut masih membuat beliau-beliau ini tetap berhati-hati dalam menyampaikan ajaran.

Seketika saya kembali ke masa kini. Di mana ada sebagian orang dengan sanad dan kapasitas keilmuan agama yang tidak diketahui. Tetapi memiliki ilmu public speaking, desain grafis, SEO, social media engineering dan memiliki follower hingga jutaan. Mereka dengan mudah menyampaikan ajaran agama secara instan tanpa pengkajian dari berbagai disiplin ilmu.

Don't make stupid people famous...hanya jargon orang yang putus asa. Kita perlu mendukung smart people untuk famous. Maka saya pribadi senang jika ada alumni pondok pesantren yang keilmuannya mumpuni mulai aktif di sosial media. Make them famous.


"Biarkan masyarakat tahu bahwa khasanah keilmuan Islam sangatlah kaya dan berwarna warni.

Bukan hanya sekedar quote, meme dan animasi. Buatlah masyarakat memiliki tokoh intelektual yang mampu dijadikan sandaran nasehat. Dari pada para motivator agama yang hanya pandai membakar semangat." Sesungguhnya"kehati-hatian" adalah picis rojo brono...emas permata yang sangat berharga di masa IoT ini.

Akhirul kalam, semoga Tuhan tetap mengizinkan kita bertemu para ulama yang benar-benar ahlul ilm wa hikmah. Amin ya rabbal alamin.

Jika artikel ini bermanfaat silahkan di share
jika ada kritik dan saran silahkan tulis di kolom komentar !!!


0 Response to "Kisah Seorang Guru Ngaji di Sebuah Langgar"

Posting Komentar