Advertisment

Kasus Audrey ,Mengapa Aku Menahan Diri untuk Berkomentar ?


Kasus Audrey ,Mengapa Aku Menahan Diri untuk Berkomentar ?
#JusticeForAudrey #Audrey 


Dari kemarin, ada banyak orang yang meminta pendapatku. Aku sudah membaca-baca kasusnya Audrey. Tapi, aku masih menahan diri untuk tidak memberi komentar. Sebab, belakangan aku menemukan beberapa hal yang patut aku dalami lebih lanjut (status ini penuh link catatan kaki, jadi MOHON disimak baik-baik):

1. Kasus Audrey viral karena seseorang yang bukan siapa-siapanya Audrey mengunggahnya di Twitter lebih dulu , BUKAN karena orangtuanya mempolisikan pelaku, masuk berita, kemudian viral. Jadi, ini adalah "the power of netizen". Ibunya sendiri baru melaporkan kasus ini satu minggu kemudian. Kenapa?


2. Audrey sering melontarkan kata-kata yang kelewat kasar dan vulgar di akun Facebooknya, sungguh kelewat batas untuk ukuran orang dewasa, apalagi dia masih SMP.

Jadi, Audrey punya 2 akun Fb sejak 2014. Nama akunnya "Audrey" dan "Audrey Zildvanka". Nah, akun yang "Audrey" sudah dinonaktifkan setelah ketahuan, setelah publik mengetahui ada banyak kata-kata kotor dan vulgar. Jadi, sekarang akunnya sudah TIDAK BISA dicari. Bukti yang tersisa cuma screenshot-screenshot di link . Ini mungkin akan membuat Anda terkejut. Ya, jejak digital itu memang kejam.


3. Menurut hasil visum, ternyata:
- TIDAK ada memar dan bengkak di dada.
- Jantung dan paru-paru normal.
- Perut datar, bekas luka tidak ditemukan.
- Organ dalam abdomen tidak ada pembesaran.
- Alat kelamin, selaput dara atau hymen intact. Tidak tampak luka robek atau memar.
- Kulit tidak ada memar, lebam, maupun bekas luka
- Sebelumnya ada klaim bahwa kelamin Audrey dimasuki jari/coba dirusak, namun belakangan diketahui ternyata itu TIDAK benar.
- Pengakuan korban yang dibenturkan kepalanya ke aspal juga dibantah pelaku.
Aku belum tahu juga mengapa ia masih dirawat di rumah sakit, padahal tidak ditemukan luka fisik.

4. Investigasi yang menyeluruh belum dilakukan. Tapi netizen sudah terlanjur menjadi pelaku bullying online pada para pelaku bullying Audrey. Aku marah atas kasus ini, tapi aku sadar celaan kepada pelaku tidak akan membuat suasana menjadi lebih baik. Terus terang, aku ngeri sekali dengan ancaman-ancaman luar biasa netizen yang langsung ditujukan pada pelaku: seperti ingin memukuli balik, mencolok alat kelaminnya, bahkan membunuh salah satu pelaku.

5. Banyak media yang buru-buru memberitakan, terkesan seperti hanya kejar tayang, tapi beritanya tidak akurat (karena TIDAK ADA KLARIFIKASI DARI DUA SISI, alias hanya mengambil berita dari postingan medsos dan desas-desus yang diklaim dari keluarga korban saja, BUKAN dari keterangan aparat).


6. BANYAK yang ganjil, karena:

- Mengapa bisa seorang anak SMP bermasalah dengan siswi SMA, padahal jenjang sekolah mereka berbeda?
- Motif "asmara" atau "berseteru di medsos" hanya berasal dari DUGAAN keluarga saja, tidak ada yang tahu motif aslinya. Bisa jadi mereka telah lama bermasalah di masa lalu, mengingat perilaku verbal dari Audrey sendiri. Bisa jadi masalah "cowok" hanya alibi.
- Audrey juga TIDAK dikeroyok.
- Isu adanya “beking" pejabat/orang penting juga tidak terbukti, seperti klaim sebelumnya.
- Ada indikasi bahwa kasus ini penuh informasi asumtif (atau bahkan melebih-lebihkan peristiwa/drama/hoax, karena korban dan keluarga menolak dikunjungi di RS).
- Sebagai anak-anak kelas 1 SMA, berani tertawa-tawa dan mengunggah IG story di kantor polisi merupakan aksi yang terbilang nekat.
Apakah karena merasa mereka benar?

Keterangan korban dan pelaku pun agak berbeda.

Kutipan: “Sementara dari masing-masing calon tersangka saat diinterogasi ini agak berbeda dari versi korban…" ungkap Anwar (Kapolsek Pontianak Selatan)

Terlalu banyak teka teki.

7. Pernyataan lain dari polisi:
- Kasus Audrey adalah PENGANIAYAAN RINGAN.
- Pelaku merasa kesal karena Audrey berulang kali melecehkan dia dan almarhumah mamanya.

8. Bagaimana awal mula kasus ini mencuat ke publik?
Pertama kali, disinyalir AKARnya adalah dari pengakuan pengacara Audrey, Fety Rahmah Wardani. Dia yang memberi pernyataan ke media soal Audrey ditendang, babak belur, dan dirusak kemaluannya.
Lalu, pertanyaan itu dimuat di berita.
Ingat, dia BUKAN saksi, dia PENGACARA.

Lalu, akun @syarifahmelinda mengcopas berita tersebut ke Twitter. Tidak disangka-sangka jadi viral. Itulah kenapa, beritanya sangat simpang siur.

Kunci dari kasus ini, menurutku pribadi, adalah netizen dan portal online yang berlomba-lomba untuk share sana-sini duluan, crosscheck belakangan. Sehingga melahirkan berita-berita yang sungguh prematur.

Terlepas dari itu semua, aku tetap sedih terhadap apa yang terjadi pada Audrey. Aku bersimpati. Aku mendukung #JusticeForAudrey dan aku TIDAK setuju dengan perilaku bullying karena alasan apapun. Tidak ada satupun pembenaran terhadap pelaku. Tapi, aku juga mulai berlatih untuk melihat segala hal dari banyak sisi.


Aku akan sangat menghargai jika Anda mau mengklik satu persatu link catatan kaki di bawah ini, dan membagikan tulisanku untuk meredam netizen yang bangga berdiri di atas kesalahpahaman.

Selamat merawat akal sehat.

Jika artikel ini bermanfaat silahkan di share !!!

Jika ada kritik dan saran silahkan tulis di kolom komentar !!!

daftarkan email anda untuk berlangganan artikel dengan gratis !!!


0 Response to "Kasus Audrey ,Mengapa Aku Menahan Diri untuk Berkomentar ?"

Posting Komentar