Advertisment

Dilema THR dan Pertahankan Karyawan


Dilema THR dan Pertahankan Karyawan

Kemarin sore selagi krang kring cari pinjaman kepada beberapa teman atau tepatnya telfon ke business angel saya, maka sampailah saya  bicara dengan salah satu sahabat lama yang mengatakan, waduh wiek, gue ngak bisa pinjemin luh nih , gila bener bisnis 2 tahun ini, turun 10% bisnis gue. tahun ini nge pas banget fulus hanya buat membayar THR karyawan setelah itu ngak ada sisa.

Di melanjutkan, temen lain ada yang 20-30% drop penjualanya,  lu gimana?, 

Saya jawab, saya penjualan ngak banyak berubah hanya ketolong bisnis baru. Sayangnya bisnis model baru ini membuat arus kas ngak stabil karena hidup di tunjang dari usaha yang lama. ‘’ini salah saya sih, membangun bisnis dengan aktif income usaha yang lain.  Jadi aja tahun ini saya masih “kekurangan’ untuk 276 karyawan THR nya sehingga sedang cari hutangan. Lu bisa bantu, daya perlu segini, saya sebutkan sejumlah angka.


Separuhnya deh gue pinjemin, bunga gue "cut"  di depan 6 bulan balik ya. Demikian nada bicara cepat karena memang itu selalu jadi snap judgment pebisnis ciri dirinya yang saya jawab, yo wis lah, ok.

Ketahuilah wahai sahabat bahwa beda memang manusia yang “dapat THR”  dan manusia yang “bayar THR” ya hahaha.

Yang dapat THR akan merasakan kenikmatan bekerja dengan kumpul keluarga sementara yang “memberi THR “ bisa gulung koming jungkir balik cari hutangan dengan bunga tinggi tanpa ada yang tahu betapa beratnya membayar nantinya dengan bisnis ke depan yang tidak tentu.

Strategi semua proyek di BUMN kan tanpa swasta nasional membuat pasar retail di serbu semua penguasaha nasional, dan disinilah “hukum rimba” berkuasa. Untuk menang di rimba ini, curang, jahat, nakal, licik dilakukan. Kompetitor disikat secara halus, secara kasar yang mengakibatkan banyak sudah memakan korban. Perusahaan pada tutup atau kue bisnisnya kemakan hingga pendapatan turun 10-30% terjadi.

Atau kalau kita bermain sopan, halus, penuh etika maka biaya marketing naik, biaya promosi naik, keutungan menipis karena bayar tepat waktu kepada suplyer padahal kalau pebisnis bajingan. Suplyer d bayar mundur, 3 bulan, 6 bulan kalau perlu. Supplyernya bangkrut dia ngak perduli.

Saya merasa sudah umuran, sayang sudah lelah bermain nakal, bermain monster ekonomi, mainkan regulasi, monoplosi sumber bahan baku, saya 3 tahun terakhir main cantik dan benar ya begini, ujung-ujungan pilih PHK 200 orang atau hutang dengan bunga besar. Riba? Sudah setahun lebih bertahan dengan cara ini.


Dunia bisnis indonesia berubah haluan dengan rinso yang mengambil strategi state capitalism.ya sudah mau di bilang apa? kita pebisnis bukan politikus harus buat maneuver bisnis lagi yang baru.

Bener deh, Kalau saya pinjam uang kebanyakan untuk “pertahanan” hidup perusahaan dan karyawan, kalau saya ngak perduli, sudah saya tutup dan PHK  200 an karyawan tetapi saya masih tahan dengan strategi baru, bisnis model baru dimana saya berharap bisa menjadi terobosan pemasaran dengan segmen pasar di geser.

Ya beginilah nasib pemberi THR, semoga hanya saya saja dan segelitir manusia yang salah strategi dalam dunia bisnis Indonesia kali ini.


Jika artikel ini bermanfaat silahkan di share !!!

Jika ada kritik dan saran silahkan tulis di kolom komentar !!!

daftarkan email anda untuk berlangganan artikel dengan gratis !!!


0 Response to "Dilema THR dan Pertahankan Karyawan"

Posting Komentar