Advertisment

Hukum Dropsip Bolehkah dalam Islam ?


Hukum Dropsip Bolehkah dalam Islam ?

Semalam saya lihat video kisah sukses seorang pebisnis. Ia menggeluti bisnis dropship internasional. Caranya mudah saja, katanya. Ia cari barang dengan harga sangat murah dari China, lalu ia jual dengan sangat mahal ke Amerika. Jadi cari barangnya dulu tanpa dibeli, setelah itu tawarkan ke calon pembeli. Setelah akad dengan pembeli baru kemudian kulakan barangnya, sehingga sangat minim resiko namun profitnya luar biasa, begitu terangnya. Dengan skema seperti itu, klaimnya dalam setahun ia bisa mendapat net profit 10 Milyar rupiah.

Baca Juga: Pengertian Dropship , Cara Memulai Bisnis dropship

Akan tetapi kita yang muslim tidak bisa mengikuti skema itu karena dalam skema itu ada pelanggaran syariat, yakni larangan menjual barang yang belum dimiliki.

"Lah kalau harus beli dulu nanti ada resiko ga laku (rugi) dong?"

Ya memang profit itu imbalan atas resiko kerugian.

hadist rosulullah:

وَلاَ رِبْحُ مَا لَمْ يُضْمَنْ

“Tidak boleh ada keuntungan tanpa menanggung resiko kerugian.” (Ahmad 6831, Nasa’i 4647, dan dishahihkan al-Albani)



Sebenarnya akad itu bisa dijadikan halal melalui dua cara. Pertama dijadikan wakalah atau samsarah (makelaran) di mana dia meminta izin kepada pemilik barang untuk ikut menjualkan produk. Fee makelarnya tergantung pada pemilik barang. Makelar bisa diberi fee marketing tanpa boleh menaikkan harga, atau pemilik barang boleh membebaskan makelar menjual setinggi-tingginya. Mana saja boleh asal pemilik barang yang menentukan skemanya.

Cara kedua dengan mengubahnya menjadi akad salam. Yakni dia memajang foto produk, lalu menjual dengan menyebutkan spesifikasi yang jelas. Saat ada pembeli yang tertarik, akad harus dilakukan dengan pembeli membayar kontan di depan. Setelah pembayaran dia terima, baru barang ia beli dan kirimkan ke pembeli.

Baca Juga: Cara Mendapatkan Uang dari Internet yang Terbukti Nyata

Ada lagi cara cepat kaya melalui bisnis properti, tapi sayangnya bermasalah menurut syariat.

Seorang kenalan pernah bercerita ke saya kalau dirinya baru saja mendapat profit 1M lebih hanya dengan bermodal cekak. Ia melihat ada tanah yang dijual di lokasi strategis dengan harga cukup murah. Ia membayar DP sekian juta saja lalu mengikat akad jual beli di depan notaris. Kemudian ia bawa dokumen akad tersebut beserta gambar desain & RAB Ruko yang akan dibangun di tanah itu ke salah satu bank. Setelah pinjamannya disetujui bank, ia mendapat utangan sekian M yang cukup untuk melunasi tanah, membangun konstruksinya bahkan masih ada sisa sekian ratus juta.

Cara itu sudah sangat umum. Banyak diajarkan di kelas properti konvensional. Hanya saja sudah jelas keharamannya karena ada utang riba dari bank. Kadang masih ada yang belum bisa membedakan antara utang ribawi dengan kredit. Juga ada yang mengira utang riba dinamakan riba karena bank yang kasih.

utang adalah akad sosial yang Allah dan RasulNya melarang kita mengambil manfaat. Setiap manfaat yang didapat dari utang adalah riba dan riba tidak bisa menjadi halal hanya karena kedua pihak saling ridho. Sama seperti zina yang tidak bisa jadi halal hanya karena kedua pihak saling ridho. Dan dosa riba jauh lebih besar dari dosa zina.

Baca Juga: 10 Usaha Rumahan Modal Kecil Untung Besar

"Wah, susah dong jadi muslim, ini haram itu haram..."

Perkara dunia itu luas. Dalam urusan dunia kaidahnya semua boleh dilakukan kecuali kalau ada dalil yang melarang dan itu sangat sedikit. Kalau semua terlihat haram, mungkin itu karena selama ini kita dikelilingi oleh pola bisnis yg haram.

Demikian artikel ini , Jika artikel ini bermanfaat silahkan di share !!!

Jika ada kritik dan saran silahkan tulis di kolom komentar !!!

daftarkan email anda untuk berlangganan artikel dengan gratis !!!

0 Response to "Hukum Dropsip Bolehkah dalam Islam ?"

Posting Komentar