Menjauh dari Tempat Keramat


Menjauh dari Tempat Keramat

Kata "keramat" selama ini identik dengan sesuatu yang mistis. Padahal kata originalnya adalah "karomah".

Kalau pakai makna karomah, ya tempat-tempat itu harus didatangi untuk mendapatkan berkah, seperti great mosque of Mecca, masjid nabi, ke tempat orang-orang sholeh --baik yang masih hidup atau udah wafat (ziarah makam).

Tapi, saya mau bahas yang keramat aja, terminologi yang udah mengakar di masyarakat dengan nuansa mistis.

Suatu ketika, saya dan kawan-kawan komunitas melakukan piknik dan bermalam (bikin tenda sampai keesokan hari) di pantai selatan Jogja.

Baca Juga : 10 Golongan Umat Nabi Muhammad yang Tidak Masuk Surga

Kita cari spot yang asik untuk mendirikan tenda, ketemulah di titik tertentu. Emang bagus spotnya.

Ketika beberapa tenda udah mulai jadi, saya baru ngeh kalau 5 meter dari lokasi kita (wicis itu deket banget), ada pohon yang di bawahnya berserakan banyak sajen.

Saya langsung instruksi ke teman-teman untuk menggeser tenda mendekat ke bibir pantai (biar menjauh dari pohon sajen).

Ada salah satu teman yang bersuara, "Ngga usah pindah, di sini aja ngga apa-apa, kita yakin sama Allah."

Terjadi adu argumen di situ.

Ringkasnya, argumen saya berhasil meyakinkan beberapa teman, jadi si teman yang bilang "ngga usah pindah" itu kalah vote.

Bergeserlah kita.

Apa yang membuat saya menang vote? Apa yang bikin sebagian teman-teman lain sepakat dengan argumen saya? Gimana cara saya menyampaikan argumen saat itu?

Tiga pertanyaan di atas udah bikin kamu menggebu-gebu belum? Hehe.

Teruskan membaca gaes. Saya baru mau masuk ke intnya

Saya mau share kepada netizen, argumen yang saya sampaikan di pinggir pantai saat itu.

Mari kita mulai.

Argumen saya waktu itu cuma terdiri dari 3 poin.

Pertama, bisa dipastikan spot bawah pohon itu ada penunggunya (saya ngga perlu jelaskan, percaya aja). Secara ilmu sosial, area itu juga udah masuk dalam wilayah kekuasaan si penunggu.

Kedua, kita adalah turis, pendatang. Secara ilmu sosial (lagi), pendatang itu punya banyak keterbatasan. Alat, sumber daya, tenaga, terpenting keterbatasan informasi seputar wilayah tersebut (sejarah, kebiasaan, pola, dll).

Ketiga, secara ilmu sosial (lagi dan lagi), ketika berada di sana, kita seperti udah terikat dengan rule yang berlaku di area tersebut. Yang kalau kita melanggar (membuat penguasa wilayah kesal), they will do something terrible to us.

Bagaimana dengan "kita yakin aja sama Allah"?

Pernyataan itu bener, tapi konteksnya kurang tepat. Seolah, menjauh dari area itu bermakna menurunkan keyakinan kita pada Allah. Ngga begitu sih harusnya.

Begini, kita bikin ilustrasi aja.

Kamu lagi jalan sendirian ke sebuah wilayah yang ngga kamu kenal, katakanlah hutan belantara.

Di tengah hutan itu kamu ketemu sama harimau.

Apa yang akan kamu lakukan?

Kamu tetep diam dan "yakin sama Allah" bahwa kamu akan selamat, atau you will do something to save your life?

Manjat pohon, kabur ala Sonic, keluarin belati untuk gulat sama harimau, adalah ikhtiar yang bisa kamu pilih untuk tetap selamat.

Apakah manjat pohon, kabur, dan belati itu artinya ngga yakin sama Allah? Ngga begitu sih harusnya.

Baca Juga : 6 Sifat Istri yang dilaknat Allah

"Emang kalau kita ada di area keramat, mereka akan dan bisa melakukan sesuatu yang buruk ke kita?" Saya jawab singkat, bisa!

Dalam sebuah hadits riwayat Muslim, nabi ajarkan doa khusus ketika memasuki atau singgah di wilayah baru.

Orang yang safar, pasti menyiapkan segala perbekalan sebaik mungkin. Nabi meminta kita untuk menyempurnakan ikhtiar dengan doa.

Bermakna, anything can harm you. Makhluk kasar dan makhluk halus. Terlebih di wilayah baru yang kamu bukan siapa-siapa di sana.

For me, personally, dan ini mungkin terlihat agak kolot, saya menerapkan apa yang saya pahami terkait hal ini sampai pada level yang mungkin menurut kamu ekstrim.

Seperti misalnya, sampai detik ini saya belum pernah datang secara sengaja dengan nawaitu pariwisata ke tempat-tempat yang clearly dipakai untuk kegiatan ritual tertentu.

Bukan ngga mau, tapi emang bener-bener ngga ada ketertarikan. Beda ya.

Dan jangan dimaknai saya benci, mengharamkan, dan semacamnya, it's not as simple as that. Mungkin lebih enak dibicarakan ketika ketemu ya, rumit kalau lewat tulisan.

"Yang penting kita ngga berbuat onar."

"Yang penting mereka ngga gangguin kita."

"Saya ngga kenapa-kenapa kok ke tempat semacam itu."

Mirip sama kata-kata yang sering dipakai para perokok, "Saya ngerokok, sehat-sehat aja". Sah-sah aja ngomong begitu, tapi kalimat itu ngga bisa menggugurkan fakta yang ada.

So I will suggest you to stay away from that kind of places. Terlebih kalau kamu punya anak kecil.

Mencegah lebih baik daripada mengobati.

Udah ngga terhitung, berapa banyak orang yang datang ke rumah dengan membawa kisah sedih, yang anggota keluarganya "berubah" setelah berkunjung ke tempat keramat. Apapun nawaitunya, meski cuma sekedar berkunjung.

Baca Juga : Bank GOIB dan Asuransi yang Mungkin Belum Anda Tau

Some people will never understand, until they experience by themselves.

Saya masih mau nulis lagi, tapi ini udah lumayan panjang.

Jadi saya cukupkan dulu.

Kalau mau komentar silahkan tulis di kolom komentar yah.... mungkin anda punya pengalaman mistis atau apalah yang bisa diceritakan silahkan tapi lebih baik tetap cuma takut kepada Allah jangan malah takut pada pocong atau setan aja.

Demikian sedikit tulisan mengenai  Menjauh dari Tempat Keramat

Jika artikel ini bermanfaat silahkan di share !!!

Jika ada kritik dan saran silahkan tulis di kolom komentar !!

0 Response to "Menjauh dari Tempat Keramat"

Posting Komentar