Pendidikan Sek's Untuk Anak Perlukah?


Pendidikan Sek*s Untuk Anak Perlukah?

Malam begitu panjang dan mencekam, tapi aku sendirian tanpa ada kekasih temanku bermesraan. Demi Allah, seandainya Allah yang siksa-Nya sangat ditakuti itu tidak ada, pasti ranjang ini sudah bergerak-gerak.'

Seorang perempuan yang hidup pada zaman Umar bin Khattab bersenandung. Ketika itu, ia ditinggal pergi suaminya berjihad dalam waktu yang lama.

Bunda Syifa memancing 'emosi' peserta malam itu.

Mengapa ia dapat menahan dirinya, Bun? tanya seorang peserta.

Kalau saya, mah, mending selingkuh aja, kalau ditinggal lama begitu. Hehe. celetuk seorang peserta lain.

Jangan selingkuh, lah. Mast***asi, aja, kalau udah kagak tahan! ujar peserta lain.

Bunda Syifa mencoba menanggapi.

Karena, eh, karena ia memiliki keimanan yang kuat. Juga, telah mendapat pendidikan seks yang benar. Maksudnya, pendidikan seks yang sesuai dengan aturan Allah dan Rasul-Nya.

Maksudnya, pegimana, Bun?

Begini. Pendidikan seks dalam Islam itu, berbeda dengan ala Barat. Sangat jauh berbeda.

Menurut perspektif Barat, naluri seksual 'wajib' disalurkan tanpa mengharuskan ikatan pernikahan.

'Silakan pacaran dan berhubungan badan asal dengan cara yang aman dan jangan gonta ganti pasangan' adalah persepsi najis yang digembar-gemborkan mereka.

Bahaya dong, ya! Sebuah komentar muncul, saat Bunda Syifa masih proses menulis.

Terpaksa mengedit lagi, menyesuaikan respon peserta.

Iya, sangat berbahaya. Lebih bahaya daripada buaya.

Pendidikan seks menurut mereka, hanya berbicara seputar pacaran sehat, penggunaan kond*m agar terhindar penyakit AIDS --padahal tidaklah efektif--, saling menghormati orientasi seksual --yang menyimpang (LGBT)--, mengisi waktu dengan kegiatan positif --positif menurut versi Barat, belum tentu menurut Islam-- dan perkara serupa lainnya.

Kalau sudah begitu, zina menjadi hal biasa, asal pakai pengaman. Ini sudah marak terjadi, tak terkecuali di kalangan remaja usia SMP/SMA.

Prostitusi berkedok macam-macam muncul, homoseksual dan transgender merebak. Penderita penyakit HIV/AIDS menjadi terus meningkat.

Berdasarkan data dari UNAIDS, pada tahun 2017, terdapat 36,9 juta masyarakat berbagai negara hidup bersama HIV dan AIDS.


Indonesia masuk peringkat ketiga wilayah dengan pengidap HIV/AIDS terbanyak di dunia.

Ngeri, 'kan?

Bunda, kalau pendidikan seks menurut perspektif Islam seperti apa? Seseorang mengajukan pertanyaan lagi.

Menurut Islam, ya! Oke. Sederhananya begini, Islam itu telah menggariskan aturan bagaimana menyalurkan nalusi seksual dengan benar. Tidak dikekang, tidak pula dibebaskan sebebas-bebasnya.

Dengan begitu, terciptalah hubungan pria-wanita yang indah dan penuh adab. Melalui beragam arahan, seperti tentang perbedaan jenis kelamin, etika bergaul sesama dan lawan jenis, etika bersenggama, dan lain sebagainya.

Apakah diajarkan sejak dini, Bun?

Iya, dong! Akan tetapi, menyesuaikan dengan usianya.

(1) 7-10 tahun: diajarkan etika meminta izin untuk masuk kamar (orang tua dan orang lain) dan etika melihat lawan jenis.

(2) 10-14 tahun (remaja): dijauhkan dari segala hal yang mengarah kepada seks.

(3) di atas 14 tahun: diajarkan cara menjaga kehormatan diri bagi yang belum mampu menikah dan diajarkan etika berhubungan badan bagi yang sudah siap menikah.

Apa saja yang perlu diajarkan, Bun, ke anak-anak kami?

Diantaranya nih, ya, Etika Meminta Izin.

Anak diajarkan tiga waktu mereka harus izin jika ingin masuk kamar orang tuanya, yakni:

1. Sebelum salat Fajar
2. Tengah hari
3. Setelah salat Isya

Kemudian, etika melihat.

Dimana haram hukumnya melihat aurat lawan jenis dengan atau tanpa syahwat dan haram pula melihat anggota tubuh lawan jenis --seperti wajah-- yang bukan aurat dengan syahwat.

Istilahnya, ghudul bashar atau menjaga pandangan mata.

Kemudian, yang perlu menjadi perhatikan kita sebagai orangtua adalah:

(1) Memisahkan tempat tidur anak pada usia maksimal sepuluh tahun dan mulai dibiasakan dari usia tujuh tahun. (Tahun Hijriyah, ya.)

(2) Diajarkan larangan sesama lelaki --juga perempuan-- tidur dalam satu selimut

Salah satu pemicu homoseks dan lesbian adalah tidur satu selimut, lo.

(3) Jauhkan anak dari sesuatu yang merangsang contohnya tayangan tv / game yang mengandung unsur pornografi.

(4) Memahamkan pola interaksi laki-laki dan perempuan

Hukum asalnya laki-laki dan perempuan adalah terpisah seperti halnya salat. Boleh interaksi dalam beberapa perkara seperti jual beli dan belajar mengajar.

Anak diajarkan perkara tersebut.

Di samping itu, ajarkan juga tentang 'gelagat-gelagat' menyimpang dari lawan jenis kepada dirinya dan bagaimana mengatasinya.

Misalnya, kepada anak perempuan, disampaikan kalau ada seorang guru yang mencoba membelai rambutnya maka tepislah dan berlari ke arah keramaian ,jangan ke tempat tersembunyi.

Dijelaskan pula, larangan mendekati zina, seperti pacaran atau berteman tapi mesra.

Mendekati zina saja haram, apalagi melakukannya. Dampak buruknya, selain dosa, hamil diluar nikah, tidak jarang dilanjutkan dengan ab0rsi dan bunuh diri. Membuat keluarga menanggung malu juga.

(5) Ajarkan tentang aurat, yang harus ditutup dan dijaga kehormatannya

(6) Ajarkan larangan khalwat yaitu berdua-duaan berbeda jenis kelamin dan ikhtilat atau campur baur laki-laki dan perempuan dalam satu tempat.

(7) Ajarkan fiqh dasar

Ajarilah anak tentang tata cara wudhu, mandi wajib, salat, puasa, dan fiqh dasar lainnya.

Ajari juga tentang apa itu baligh, apa itu ihtilam, dan apa itu haid?

Wah, banyak juga, ya, yang mesti menjadi perhatian kami sebagai orangtua! komen seseorang.

Iya, tugas berat ini. Berat banget tukas seseorang lainnya.

Berat atau tidak, tergantung persepsi kita, Bunda sekalian. Kalau kita menjalaninya dengan ikhlas mengharap rida Allah, semuanya akan terasa ringan.

Lagipula, bukankah mendidik di masa kecil itu ibarat mengutir di atas batu? Nampak berat, tetapi akan membuahkan hasil karya yang luar biasa dan bertahan lama.


Bayangkan, jika kita mau 'membayar di muka' dengan lelahnya kita mendidik mereka, maka kita akan terhindar, InsyaAllah, dari 'membayar di belakang' berupa terjerumusnya buah hati di lingkaran syetan perzinahan dan beragam turunan dan penyimpanannya.

Kiranya, sampai di sini dulu ya. InsyaAllah akan disambung nanti.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Demikian sedikit tulisan mengenai Pendidikan Sek's Untuk Anak Perlukah?

Jika artikel ini bermanfaat silahkan di share !!!

Jika ada kritik dan saran silahkan tulis di kolom komentar !!

0 Response to "Pendidikan Sek's Untuk Anak Perlukah?"

Posting Komentar