Advertisment

Resiko Prosesi Kilat Menuju Akad


Resiko Prosesi Kilat Menuju Akad 

Sepertinya sebagian besar masyarakat Indonesia masih belum terbiasa dengan prosesi kilat menuju akad. Setidaknya dalam separuh lingkar sosial saya.

Seorang kawan yang menikah kilat pernah diinvestigasi oleh keluarga besar istrinya yang bertanya-tanya, kenapa kok harus secepat itu. Walhasil kawan saya ini diselidiki apakah sudah punya anak istri sebelumnya. Padahal ia masih perjaka ting-ting. Ini karena keluarga istrinya belum terbiasa dengan prosesi sekilat ini sehingga muncul prasangka buruk.


Saya sendiri menjalani proses bertemu istri untuk pertama kalinya hingga akad hanya dalam hitungan dua bulan. Itu pun karena ketemu bulan Ramadhan sehingga pernikahan dilaksanakan di bulan Syawal. Mungkin kalau tidak bertemu Ramadhan, bisa langsung menikah hanya dalam waktu sebulan sejak bertemu.

Saat walimah, sembari bercanda, beberapa kawan mengatakan akan menghitung tanggal nikah sampai tanggal kelahiran anak saya nanti apakah genap 9 bulan 10 hari..hehe.. Guyonnya njagani kalau ada MBA (Married By Accident alias nikah karena hamil) istilah orang tahun 90an. Tentu kawan-kawan saya tadi cuma bercanda. Tapi menurut saya itu bercanda yang berlebihan tidak lucu malah terkesan memfitnah orang, kalau orang yang dibercandain santai atau selow2 aja sih gapapa kalau orangnya tempramen bisa jadi malah diajak kelahi. Memang kebiasaan di masyarakat memang seperti itu.

Umumnya orang Indonesia berpandangan bahwa prosesi normal menjelang menikah adalah pedekate, / PDK alias pendekatan lanjut pacaran sekian tahun, lamaran, pacaran lagi sekian bulan, baru menikah. Itu kalau lancar sampai garis finish. Selama perjalanan itu tidak menutup kemungkinan terjadi 'perselingkuhan' hingga perebutan pasangan. Maklum, janur kuning belum melengkung.

Padahal agak aneh juga kalau disebut "perselingkuhan". Saya masih tidak bisa mencerna. Apanya yang diselingkuhi? Kan belum ada ikatan resmi apa-apa.

Sama halnya saya tidak bisa paham dengan aktivitas pacaran. Istilah halus untuk menggambarkan suatu kondisi di mana orang tua mempersilahkan lelaki asing (bukan keluarga) untuk membawa-bawa anak gadisnya. Entah dibawa kemana. Dipegang apanya. Diapakan orang tuanya tidak tahu malah saat pulang larut malam pun tidak ditanya maupun tidak ditegur. Anehnya ayam peliharaan tidak pulang malah dicari-cari, kan aneh....

YA begitulah standard yang berlaku di mayoritas orang Indonesia.

Sementara yang masih dalam koridor syariat, seperti prosesi nikah kilat tadi, jadi mengundang prasangka hanya karena tidak biasa.


Sebaliknya, yang secara syariat bermasalah, seperti pacaran tadi, jadi normal karena dibiasakan. Bahkan dijadikan tolok ukur definisi NORMAL itu sendiri. Tidak mengikuti pakem ini berarti ada apa-apanya. Hamil duluan, misalnya. Atau sudah punya istri sebelumnya.

Tetangga saya malah lebih ngawur lagi. Ibu ini pernah bilang di hadapan ibu-ibu kampung kalau sudah biasa di zaman sekarang ada gadis menikah karena hamil duluan. Anda tidak salah baca. Biasa, katanya.

Itu karena hal yang salah, kalau dibiasakan, lama-lama jadi biasa / normal. Yang tidak seperti itu dikira ada apa-apanya. itu pola pikir ibu-ibu kampung yang ngawur. Jangan punya pola pikir seperti ibu itu ya, sebaiknya kita jika memiliki anak untuk selalu menjaga dan mengarahkannya,Dari pada lontang lantung pacaran jika sudah akil baligh dan mampu kenapa tidak menikah saja... kan menjauhkan dari perbuatan syaitan, atau kemudhorotan. Kalau sudah menikah mau pegangan tangan mau apa juga halal kan sudah menjadi istrinya.

Demikian sedikit tulisan mengenai Resiko Prosesi Kilat Menuju Akad

Jika artikel ini bermanfaat silahkan di share !!!

Jika ada kritik dan saran silahkan tulis di kolom komentar !!

0 Response to "Resiko Prosesi Kilat Menuju Akad"

Posting Komentar