Masihkah Anda LDR dengan Allah


Masihkah Anda LDR dengan Allah?

Long Distance Relationship / LDR sepertinya asik. Dan satu pelajaran berharga tentang hubungan itu aku temukan di dalam kereta.

"Ren, udah shalat?" Tanya temanku, ditengah perjalanan kereta kami menuju Surabaya.

"Belum. Dimana? Disini atau ditempat dudukmu?" Balasku kepadanya.

Umumnya, aku melakukan shalat sambil duduk ketika berada di dalam kereta, namun tidak pada hari itu. Setelah aku menemukan suatu hal tidak terduga.

"Ditempatmu aja ya? Disini depannya perempuan, nggak enak." Tambahku, sambil menunjuk beberapa teman perempuan.

Kami menuju ke toilet di bordesk kereta untuk mengambil air wudhu. Sampai di bordesk, persis di sebelah pintu kereta. Ada pemandangan luar biasa; Seorang kakek sedang shalat dalam keadaan berdiri.


Setelah berdiskusi sedikit, kami memutuskan untuk mengikuti kakek tersebut. Kami pikir itu lebih utama, saat masih bisa mengusahakan berdiri sebelum mengambil 'kemudahan ibadah' selanjutnya.

Selesai shalat, benakku refleks memikirkan kakek itu. Aku ingin menemuinya dan bertanya beberapa hal. Kutemui beliau bersama istrinya di beberapa gerbong setelah tempatku.

"Kek, tadi kakek yang shalat di bordesk kan ya? Kok bisa kepikiran seperti itu?" Tanyaku penasaran setelah berkenalan singkat."

"Iya ih kamu mah, dibilang duduk aja shalatnya. Kan bahaya kalau tadi jatuh gimana?" Sambar istrinya yang lantas memarahinya.

"Iya, maafkan aku.. Tapi pengin aja.." Jawab kakek itu pasrah kepada sang istri.

"Jadi toh dek, suami saya itu ngeyel. Sudah 80 tahun, tapi setiap adzan pasti maksa shalat di masjid. Padahal sudah berkali-kali jatuh saat berjalan ke masjid. Bahkan pernah sampai berdarah karena terserempet motor, tapi masih aja ngeyel." Tambah istri sang kakek.

"YaAllah kek, kok sampai segitunya sih. Kan nggak papa shalat dirumah, sudah tua kan kek. Daripada kenapa-napa.." Sahutku terharu dengan usaha kakek tersebut.

"Tadi aja pas mau shalat di bordesk udah tersandung berkali-kali, tapi masih memaksa shalat berdiri disana." Istrinya kembali menimpali, mungkin sangat khawatir dengan suami tercinta.

Aku memandang sang kakek. Berharap beliau bisa memberi rasionalisasi kepada istrinya.

"Maaf. Saya cuma merasa kalau masih bisa. Terkadang saya merasa kalau usia itu bukan alasan untuk tidak mencoba." Jawabnya sembari menggenggam tangan istrinya.

Beliau kemudian menoleh kepadaku. Tersenyum tanpa ragu.

"Dek, saya merasa kalau dalam suatu hubungan, keseriusan kedua belah pihak sangat menentukan. Apalagi ini hubungan jarak jauh, dimana kami tidak bisa saling sentuh. Begitulah hubungan manusia dengan Allah." Katanya halus.

Aku terdiam, masih sedikit mengolah kata-katanya, sampai ia melanjutkan.

"Saya merasa masih diberi nikmat oleh Allah untuk mencoba, saya terjemahkan itu sebagai suatu kode kalau saya masih bisa. Saya juga berpikir, kalau Allah selalu serius dalam mencintai hambanya, tidak berhenti nikmat yang Dia turunkan kepada kita. Dia membuka pintu ampun dan menerima khilaf tindak maupun kata.

Saya merasa malu, jikalau hanya karena usia, menghalangi saya untuk shalat di masjid. Menghalangi saya untuk berusaha optimal dalam menjalankan perintahNya.

Saya juga mau serius dalam mencintai Allah."

Hatiku menangis. Seluruh jiwaku teriris. Kalau dibandingan kakek itu, mungkin umurku lebih tipis. Tapi sudah jelas bahwa dosaku tebal dan berlapis-lapis. Masa iya, dengan kesempatan muda yang aku punya, tapi aku merasa tiada berdaya, dihadapan seorang tua renta?

Serius mencintai Allah, katanya. Memoriku mundur secara berkala.

Berapa banyak waktu shalat tertunda, karena tertahan hal duniawi bernama rapat?

Berapa banyak shalat berjamaah nggak terlaksana, karena kalah dengan gravitasi kasur yang begitu berat?

Berapa banyak shalat nggak khusyu, karena kurangnya dalam hatiku taat?

Berapa banyak shalat ditinggalkan, karena belum paham orientasi yang harus dipegang erat?

Berapa banyak nasihat yang harus didapat, agar tahu kalau tujuan akhir adalah akhirat?

Sama sekali tidak, aku memutuskan. Aku belum serius mencintai Allah. Itu baru shalat, dan hatiku sudah tenggelam oleh air matanya sendiri.


Kakek itu benar. Hubungan itu harusnya dijaga oleh kedua belah pihak, dengan saling serius dengan mencintai. Jika Allah selalu serius dalam memberikan cintanya, apakah kita sudah berbuat hal yang sama?

Aku tersadar, aku sedang ber Long Distance Relationship dengan Allah. Maka biarlah makin banyak waktu aku habiskan untuk Dia. Paling tidak, jangan sampai aku diputus olehNya karena berselingkuh dengan dunia. Padahal semua jenis cinta dan sayang telah diberikan olehNya, tapi bodohnya aku masih nggak sadar akan semuanya.

Aku berdosa, aku akan mencoba, kuperjuangkan LDR kepadaNya, agar menjadi sebaik-baik hubungan yang pernah ada.

Demikian sedikit tulisan mengenai Masihkah Anda LDR dengan Allah

Jika artikel ini bermanfaat silahkan di share !!!

Jika ada kritik dan saran silahkan tulis di kolom komentar !!

0 Response to "Masihkah Anda LDR dengan Allah"

Posting Komentar