Review Film Bioskop GUNDALA


Review Film Bioskop GUNDALA  (Joko Anwar, 2019)

Seorang bocah jadi yatim piatu karena bapaknya tewas waktu demo di pabrik dan ibunya pergi, "lunga ora bali-bali" (go away never go home). Di jalanan ia hidup penuh kekerasan hingga seorang pemuda mengajarinya ilmu silat. Ya, supaya si bocah bisa beladiri dan mengatasi masalah sendiri. 

Sementara itu seorang difabel bermasa lalu kelam menancapkan pengaruhnya di politik. Ia memiliki ratusan anak buah yang di antaranya punya kekuatan linuwih. Di antara penentangnya adalah seorang anggota dewan yang masih punya integritas. Ketika sang musuh kelam tadi membuat kekacauan nasional, sang bocah yatim piatu tadi muncul sebagai penghadang. Tentu saja kini ia udah gede dan kerja sebagai satpam.

Si pemuda ini punya masalah dengan geledek. Mungkin dia dulu suka nyumpahin terus kualat. Kita belum tahu mengapa geledek mengincar dia. Pemuda silat yang pernah ngajarin dia waktu bocah pernah nanya, "Lu punya masalah apa sama petir?"

==========

Waktu menunjukkan pukul lima sore. Tangan saya masih sibuk di meja kerja. Waduh, jam setengah enem kudu musti meluncur ke CGV nih. CGV itu di kota, saya di ndeso (tapi ya ora ndeso banget). Langsung saya mandi, melamun sekadarnya sambil gosok sabun eh gigi. Lalu pake baju tempur dan dengan kecepatan mengendarai yang astaghfirullah lambatnya, akhirnya sampe juga saya ke kota. Mepet banget waktunya. Untunglah Si Coklat, si traktor (orang yang mentraktir disebut traktor bukan sih?) belum keburu ninggalin saya. Lha gimana wong dia yang nraktir.

Sungguh sebuah pengharapan yang dag dig dug. Gundala diharapkan akan menjadi film sukses yang bisa membangkitkan genre marjinal ini. Gundala jelas bukan yang pertama mencoba genre superhero. Juga bukan pertama kali karakter ini difilmkan. Hampir semua genre superhero Indonesia gagal di tengah jalan. Penyebabnya adalah kegagalan eksekusi, kelemahan storytelling atau mungkin budget yang gak "ngejar patokan estetik".

Jadi... seperti apakah Gundala versi BumiLangit garapan Pak Joko yang JoKan ini?

Kita bahas dari 3 segi: CERITA, PERFORMA AKTOR, VISUAL, MUSIK, KOSTUM dan TATA LAGA. 

Eh nggak jadi 3 tapi 6 ding.


CERITA

Berbeda dari versi aslinya, Pak Joko mengubah cerita Sancaka secara signifikan. Sancaka bukan lagi seorang ilmuwan yang galau disamber geledek. Ia adalah bocah malang (tapi gak bisa bahasa Jawa walikan)... malang semalang-malangnya. Full of misery. Bapaknya nggak sugih kayak ortu Bruce Wayne, bukan ningrat dari Kraton Krypton kayak Kal-El, juga nggak masuk ABRI kayak Steve Rogers.

Masa lalu Sancaka terceritakan dengan runtut. Dia bukanlah tipe karakter yang disiksa secara terpaksa oleh sutradara. Kita iba karena memang mengikuti bahwa sumber derita ini cukup dekat dengan konteks sehari-hari. Bapaknya mlarat tapi idealis. Musuhnya jelas banyak. Bos pabrik tempatnya kerja jelas tak mau dia bersuara.

Sayangnya perjalanan Sancaka bocah yang mulus ini berubah jadi terseok-seok sewaktu dia dewasa. Tahu-tahu kita mengenal Sancaka yang sudah kerja secara normal jadi satpam. Gimana anak jalanan bisa "seberuntung itu" ya? Ketemu siapa dia? Bisa beli buku dari mana? 

Ya nggak papa. Nanti di sekuelnya semoga kita tahu gimana Sancaka kok bisa dari pemuda jalanan trus dipercaya jadi satpam. Apa gak butuh ijazah minimal SD ya? Sancaka kan ninggalin rumah saat ia masih SD. Apa nunggu Ebtanas dulu? Kok ya beruntung Sancaka gak terjerumus jadi anak buah Pengkor atau malah jadi anak-anak punk jalanan.

Bagaimana Sancaka bisa dapat kekuatan petir? 

Di versi asli adalah bahwa dia emang dilantik oleh bapak angkatnya yang rajanya geledek. Di film ini kita belum tahu sepenuhnya. Yang jelas sejak kecil dia ini "sambergeledekable". Kemana aja dia pergi, petir seolah mengejar. Ya mungkin dia pernah adu sumpah ama temen kali ya.... taruhan terus yang kalah bakal disamber petir.

Bagaimana kekuatan petir itu dikembangkan Sancaka, saya rasa cukup masuk akal. Tapi ya akalnya film, Broooo ora usah nggawa-nggawa sains lah. Saya suka dengan adegan bagaimana Sancaka ini dapat nama Gundala. Masuk akal dan cukup Indonesia. Itu akan anda jumpai di akhir cerita.

Di saat yang sama, kisah lain dibangun. Pengkor si musuh kita diceritakan punya akses ke tokoh-tokoh politik. Lewat kekuatan uang. Masa lalunya kelam. Sayangnya pertemuan Pengkor VS Sancaka tidak terbangun dengan meyakinkan. Gampang banget pula nemuin di mana sang hero berada. Jadi what for tu topeng? Apa biar gak kelilipan doang ya? But it's okay. Mungkin Sancaka mudah ketemu karena banyak orang lambenya turah. "Om, tau orang yang jago gelut bisa ngeluarin petir gak?" Dijawab, "Gue kasih tau lu mo bayar berapa?"

Saya rasa akan menarik jika kekelaman masa lalu Pengkor ini dibenturkan sama Gundala. Kan sama-sama anak yatim tuh. Tapi keduanya berjumpa ya gara-gara yang satu punya agenda, satunya ngacau. 

Ada banyak karakter yang ditebar di film ini. Merpati, Godam, Sri Asih, Ki Wilawuk dll. Sebagian mengambil peran cerita yang signifikan, sebagian lain cuma jadi "easter egg". Bisa saya maklumi karena tujuan marketing dari film ini adalah membangun awalan dari sederetan film superhero yang intellectual propertynya dimiliki PT BumiLangit.

Kemunculan tokoh ini ada yang mulus, ada pula yang terasa dijejalkan. Belum juga Pengkor tergali maksimal eh muncullah musuh lain yang merebut kesangarannya. Bisa saya bilang, kebanyakan musuh di sini jadi malah gak fokus. Ingat, kita masih menginvestasikan perhatian pada masalah kacaunya negara di masa Sancaka jadi Gundala. Bagi saya, Pengkor terlalu singkat exposure-nya. Padahal latar belakangnya sangat menarik.

Sudah bagus saya jatuh hati pada karakter Sancaka bocah, tapi saya kayak missing ketika si bocah jadi dewasa. Don't get me wrong. Abimana is great. Exposure dia dengan kekuatan dan tanggung jawab lumayan jelas. Masalahnya, Pengkor yang harusnya bisa menyerang Sancaka lewat sisi sentimentalnya, gak dimanfaatin buat itu. Jadi bentroknya Gundala VS Pengkor ini cuma murni fisik. Jaman segini sayang loh kalo kita gak ekspose sisi psikologisnya. Meski arah itu bukan tanpa resiko. Ya.... too bad for Pak Pengkor.

Trus ada yang bikin jengkel nih. Apa alasan Pengkor melakukan semua kejahatan itu? Pak Joko bukannya "show" tapi malah "tell". Tell bukan dengan cara yang asyik lewat dialog ringkas tapi malah ngomong lama seolah ngejelasin kayak presentasi. Ini jadi anti klimaks sama pembangunan karakter Pengkor yang mustinya keep cool hanya dengan tindakan. Eh malah "presentasi".

Komedi adalah bagian penting dari film superhero. Fungsinya sebagai comic relief, biar gak tegang terus. Komedinya efektif banget. Gak maksa. The most ngakak scene adalah... preman pasar jadi manten. Bwahahahahaha ngakak saya. Terbaek deh Pak Jokooo.

Soal kekerasan gimana? Ya ini film keras. Secara storytelling itu perlu dan secara sinematik itu harus. Lho kok gitu?

Come oooon, this is not tahun seket, Pak. Jangan apa-apa kekerasan yang disalahin film. Kita bukan di jaman Anwar Congo, Pak. rating 13 tahun ke atas bagi saya masih okelah. Kalo anak kecil nonton paling-paling ntar malah bakal pingin jadi filmmaker. Kayak saya.

Menjelang akhir, fase penokohan menjadi riuh dengan bentrokan-bentrokan. Orang kadang nyamain pendekatan Pak Joko's Gundala dengan Batman ala Nolan. Menurut saya beda. Batman Nolan ada bentrok psikologis, konflik perasaan dan kepentingan. Gundala enggak. Tapi ya gak papa. Kecilnya aja udah menyedihkan. Karakter Sancaka ala Pak Joko ini saya apresiasi sebagai the best superhero character development in cinema. The best dibanding semua film Marvel DC. Yang gak terima samber geledek!

PERFORMA AKTOR

Nggak usah njlimet. Saya bilang semua tampil pas dengan porsinya. kalopun dialog terasa teatrikal kayak film jadul, menurut saya is okay. Ada kesan retronya. 

Bront Palarae sebagai Pengkor meski kurang bikin menggigil, setidaknya ia gak lebay kayak musuh-musuh tipikal film laga yang demen ketawa. Cukup, namun bisa lebih baik lagi.

Tara Basro sebagai Wulan. Ya udah gitu aja. Manis. Tapi saya lebih suka Neng Pevita meski scene dia nylempit jadi kaget-kagetan menjelang akhir. 

Ario Bayu sebagai Ghazul, teatrikal. Tapi mbayangin dia mustinya gimana lagi saya gak tahu hihihi. Emang akting dia gitu.

Lukman Sardi sebagai Ridwan Bahri, pas lah.

Kak Abigail. Sorry anoyying... itu Harley Quinn apa Gogo Yubari sih? Ketawanya bagusan Kuntilanak lagi... 

Muzakki Ramdhan sebagai Sancaka bocah, he is the gold.  

Abimana sebagai Sancaka, pantes banget tapi.... latihan silatnya yang tekun ya, Mas. Biar pinggangnya lentur dan kakinya lincah hehehe. 

Ada dua screen stealer yang sangat saya suka. Yakni penampilan Kang Cecep Arief rahman dan Faris Fadjar yang ternyata putera Kang cecep.

Pemunculan keduanya di film ini sangat memukau. Bahkan munculnya karakter penari sakti seremnya melampaui Ki Wilawuk. Faris sendiri kalau langkahnya benar, saya berharap ia akan jadi aktor laga potensial di kemudian hari. 

Ki Wilawuk kurang serem. Masih lebih serem Sujiwo Tejo.

VISUAL

Tak sukar menebak preferensi sinematik Pak Joko. Apalagi sebelumnya beliau sudah pernah bikin film superhero lho... tuh film Kala.

Jadi anda akan nemu gambar ala Kala, Janji Joni, Pengabdi Setan dll. di film ini. Di beberapa bagian mungkin anda juga akan mencium bau-bau The Raid 1 & 2, Batman Begins dan bahkan Jaka Sembung. Adegan Ghazul mengambil jasad Ki Wilawuk itu mengingatkan saya pada adegan dukun antek Kumpeni mbangkitin jasad Ki Item yang punya ajian Rawe Rontek. 

Sinematografer Ical Tanjung bermain gelap terang dengan sangat berani. Saat kecil sancaka, digambarkan dengan kelamnya sinar yang merasuk ruang. Ikut bikin perasaan kita sempit terhimpit.

Adegan Sancaka lari dikejar pengeroyok diambil dengan sangat cakep dan mengesankan. Mungkin saya akan mengingatnya sebagai yang terbaik setelah Forrest Gump.

Gimana dengan efek? Soal satu ini netizen cerewetnya bukan main. Dipikirnya CGI itu cuma buat bikin gedung hancur, ledakan ama monster. Padahal memoles tampilan bangunan, arah cahaya dan obyek sehari-hari juga bisa dilakukan pakai CGI. Yang ini hasilnya bahkan tak dikenali secara visual. 

CGI Gundala sudah pas. Ada satu yang kurang tapi (tu yang anggota DPR baru dan anak istri di gedung)  ya sudahlah semoga di film berikutnya lebih mulus. Petirnya bisa lebih bagus tapi yang ini juga tak buruk. Mobil melayang itu oke juga. CGI bukan ya?

Visual Gundala adalah kombinasi kesuraman Horror ala Pak Joko, noirnya Batman dan kekumuhan ala The Raid. 

MUSIK

Sebenarnya sih cukup, tapi mustinya bisa lebih kuat lagi. Terasa beberapa bar kayak Hans Zimmer's Batman juga Alan Silvestri's Avengers Theme. Saya aja selalu kebelet nyambungin nada gesekan stringnya dengan Theme-nya Avengers. 

Leitmotif untuk karakter sang penari (Kang Cecep) bahkan malah paling bagus dibanding lainnya. Ada bau tradisional woodwindnya. Setiap ia muncul, musik ini terdengar mencekam. Kayak udah pasti mati aja yang ketemu dia.

Yak ampun, saya kok berani-beraninya ngritik guru sendiri. Mas Aghi, salah satu komposer film ini saya anggap guru saya. Saya pernah ikut kelas beliau yang singkat.  

KOSTUM

Kalo liat kostum yang di poster, tentu kita tahu deh. Itu versi dummy-nya. Menurut saya itu lumayan. Keliatan indie dan handmade. Saya gak bisa bayangin Gundala ujug-ujug pake spandex item mengkilat dengan dua sayap di telinga. Keliatan oke mah kalo di komik, kalo bener-bener dilakukan... nggilani, Mas.

Ternyata tebakan kita bener. Kostum yang finalnya (versi budget dari rakyat) gak sesimple itu. Saya belum bisa katakan itu keren apa nggak. Soalnya adegannya remang. Tapi terlihat kostum itu industrial. Sayap di kupingnya terlihat okay. Full body armornya cukup nice. Tampilan mask? Canggih kayak bikinan Stark Industries. Mungkin saya perlu nonton film berikutnya.

Canggih kok kostumnya. Kayaknya bukan pesen ke anak magang lah. Dalam remang ia terlihat menjanjikan. Kita tunggu penampilannya dalam terang.

TATA LAGA

Hmmm... di bagian ini saya paling cerewet. Bukan berarti saya bisa bikin yang lebih bagus ya hihihi. 

Anda melihat kedahsyatan silat, tapi sayangnya tetep belum selevel The Raid. Mungkin bisa saya bilang ini versi ketoprak dari The Raid.

Ada 3 komponen yang bikin adegan laga bagus: Koreografi, sinematografi dan editing.

Koreografinya bagus meski gerakannya mudah ditebak. Masalahnya ada pada fight rhytm-nya. Ritme yang tidak padat bikin ada celah di gerakan. Kita sebut ini "Telegraphic moves". Artinya pelaga terlihat mengantisipasi serangan secara atifisial. Kayak udah dikasih tahu sebelumnya, kayak diapalin dulu gerakannya. Itulah telegraphic moves. Hey aku mau serang kepala tuh, menghindar ya... eh menghindarnya kecepetaaaan. Belum diserang nih.

Adegan tarung keroyok juga tak tereksekusi secara layak. Masalah klasik semacam nyerangnya giliran masih saja muncul. Mas Abimana sih kurang latian. Latihan yang lebih keras yo mas. Sampeyan bisa deh.

Akibat kendornya Mas Abimana, tarung yang mustinya epic lawan anak-anak Pengkor jadi "pengkor" pula. Kedodoran dalam ritme, postur dan gerak. Penyakit lama nih. Musuh sesakti apapun kalo keroyokan, pasti gampang kalahnya. Disentil aja mencelat. Kalo satu doang, gak sakti amat susah banget dikalahin. Nampaknya pola gini masih saja terjadi. Eman-eman. Stunt performer yang talented macam Andrew Sulaeman pun kurang terekspos bakatnya. I would say Gundala's fight masih kurang trengginas.


Sebagai sebuah upaya untuk menjual warisan kreatif bangsa, Gundala adalah langkah pertaruhan. Kalo gagal ya bakal ambyar cita-cita sinema laga linuwih (istilah saya untuk genre superhero).

Gundala itu bagus, meski harusnya bisa lebih bagus lagi. Pengalaman serupa kayak saya pas nonton film Pak Joko yang lain. Beliau di mata saya tetaplah yang terbaik, sutradara dengan visi yang lantang dan berprinsip. Tapi pujian saya soal film satu ini maaf... bukan kepada Pak Joko Anwar.

Melainkan kepada para produser yang berani nunjuk pak Joko.

Gak semua orang berduit rela membayar (in a huge amount) sutradara agar bebas dengan visi kreatifnya. Puji syukur para produser memilih Joko Anwar. Kenapa kok musti Pak Joko?

Di mata saya, Pak Joko masih satu-satunya sutradara berpengalaman yang punya visi dan taste untuk film genre. Beliau juga paham how to tell a story (meski belum mencapai puncaknya). Kedodoran di action design sih nanti bisa diserahkan ke action director yang jago.

Dan kita mustinya tak menilai karya film hanya semata ini karya anak bangsa, demi kebangkitan industri sinema bla-bala. Bagi saya itu bullshit. Film kalo bagus gak usah merengek. Dia akan berbicara dengan sendirinya. gak usah diaku masuk nominasi Oscar juga ora pateken. Apik ki yo apik.

Tapiiii... apik bergantung pada taste personal.

Kalo kamu ini fanatik Marvel DC dan menganggap itu patokan film superhero, maka ya ini bukan film buatmu.

Kamu yang sukanya drama mendayu remaja atau kisah megah sejarah ala Bumi Manusia, maka ini juga bukan film buat kamu.

Kalo kamu ini menjunjung moralitas dengan menyensor sana-sini adegan kekerasan tapi memperdengarkan ceramah kebencian secara wajar, ya ini gak pas buatmu juga.

Ini adalah film bagi yang mau merayakan kebangkitan karakter jagoan komik dalam sinema. Bukan buat orang cerewet yang nontonnya musti berat-berat macam Tarkovsky atau Lars Von Trier.

Ini adalah film buat merayakan masa kejayaan komik nasional 50 taun silam.

Tapi ya semoga BumiLangit berhati-hati. Memilih sutradara yang cukup teruji dan visioner, melanjutkan apa yang dibebankan pada Pak Joko bukan pula hal yang mudah.

Anyway...

NILAIIIIII

Ekspektasi VS realita? 

AMAN!

Bagus nggak? 

BISA LEBIH LAGI.

Recommend gak? 

RECOMMENDED.

Film ini pas buat siapa? 

SEMUA PENYUKA SUPERHERO terutama penyuka komiknya tapi bukan yang fanatik, penyuka film superhero alternatif, penyuka aktor-aktor yang main di filmnya dan yang mau dukung kebangkitan genre superhero nasional.

SELAMAT, Gundala. 8 of 10 nilai dari saya pembaca komik Gundala sekaligus penyuka genre laga.

Demikian artikel Review Film Bioskop GUNDALA 

Jika artikel ini bermanfaat silahkan di share !!!

Jika ada kritik dan saran silahkan tulis di kolom komentar !!!

daftarkan email anda untuk berlangganan artikel dengan gratis !!

0 Response to "Review Film Bioskop GUNDALA "

Posting Komentar