Bisnis sudah Growth Tapi Masih Collapse Juga



Bisnis sudah Growth Tapi Masih Collapse Juga

Padahal sudah Growth tapi koq masih bangkrut juga?
Adakah perusahaan yang mengalami kejadian seperti ini?

Buanyaakkk sekali...Korban disrupsi

Memang sih.. sebenarnya ada signal kuat kalo bisnis masuk ke "declining phase"...Tapi laporan keuangan tahunan bahkan sudah tak sanggup lagi menangkap sinyal ini.

Karena semua terjadi terlampau cepat

kenapa tiba-tiba pengen bahas materi ini..

Tiba-tiba diingetin sama email dari Kek Jamil Azzaini.


Sebuah tulisan yang menggugah dan menghentak.
Tetang "Jebakan Kesuksesan.."  Sudah sukses koq masih collapse juga. Apa yang salah

Kadang sebuah perusahaan terlampau happy dengan pencapaian yang sedang diraih saat ini..

Secara finansial padahal mereka sangat sehat pada awalnya..

Laporan keuangan selalu bertumbuh
Net Profit.. EBITDA.. PBV semua naik...

Baca Juga : Kenapa Launcing Produk Sepi Sepi aja ?

Tiba-tiba anjlok dan bangkrut aja

Kalo di artikelnya Kek Jamil kita menemukan Kodak dan Yahoo yang diangkat disana

Kodak terlibas oleh temuannya sendiri.. digital camera, karena mindset mereka masih tertanam kuat bayang-bayang kesuksesan analog camera

Yahoo.. yang sempat menolak tawaran kerjasama dari Sergey Brin dan Larry Page yang dulu bukan siapa-siapa dengan Googlenya.. sekarang harus mengakui valuasi Yahoo sudah gak ada seujung kukunya Google

Tahun 2000 ketika email masih jaya-jayanya pernah merasakan valuasi 125 milyar dolar.. namun pas diakuisisi Verizon 17 tahun setelahnya pasrah di harga 5 milyar dolar

Namun kompetisi sekarang makin acak.. makin random

Masih bagus itu Yahoo lawannya Google masih jelas..

Sama-sama main search engine.. sama-sama email service provider.

Nah sekarang siapa yang akan terbantai dengan siapa gak akan jelas, karena bisa jadi lawan kita adalah sama sekali yang berbeda dengan kita.

Ketika era Fintech dan cashless society makin meraih kepopulerannya, trust terhadap uang digital makin naik, perbankan bisa saja dilibas gojek dengan Gopay nya, atau Telkomsel dengan LinkAja nya

Mereka pemilik ekosistem yang paling besar akan merajai semuanya. Iya seperti hukum rimba.. "Winner takes all"

Pemenang akan melakukan aksi "Sapu Bersih".. semua bidang digarap... diakuisisi.
Lainnya gak disisain apa-apa.
Paling remah-remah rengginang di kaleng Khong Guan

Yang besar makin menggurita.. yang kecil cuma dua pilihan.. mau dicaplok atau "harakiri" biar terhormat.

Harakiri.. iyaa.. membunuh bisnis sendiri.. yah mau gimana lagi, udah gak untung,  pelanggan gak ada.. biaya operasional terus menggulung.

Umumnya mereka yang merasakan ancaman ini lebih merelakan kalo bisnisnya dicaplok. Paling tidak mereka masih merasakan "ngantor di kantor mereka". Meskipun pemiliknya sudah beda.

Macam bluebird yang mengangkat bendera putih dan berdamai dengan gojek.

Kenapa sering kali BUSINESS LEADER sering kali terlambat mengambil keputusan?

Iya.. kalo business bangkrut satu-satunya yang bertanggung jawab adalah leadernya.. CEO nya. Sang pilot, sang nahkoda bisnis tersebut.

Kalo ada kemajuan atau kemunduran dengan sebuah bisnis..ialah orang pertama yang bertanggung jawab

Bukan bagian produk.. bukan pula marketing..bukan pula R&D.. apalagi HRD. Tapi leadernya.

Karena ia lah yang mestinya paham memanfaatkan resource yang dipunyai perusahaannya, paham bagaimana arah persaingan kedepannya, paham bagaimana men develop team.. dan banyak hal strategis lainnya.

Dan ini berlaku bukan hanya untuk perusahaan besar ya.. entitas bisnis kecil sekelas UKM pun harus paham dan melek dengan trend bisnis kedepannya.

Ketika semua bisnis mulai menggunakan bot dan machine learning untuk memproses orderan dan melayani pertanyaan pelanggan, ketika negara maju mulai mempekerjakan "3D Printing".. kita masih ngotot memperbanyak tenaga manusia dan makin murah menggajinya. Karena sudah tidak mampu lagi bersaing dengan efisiensi mesin.

Baca Juga : Suntik Mati Bisnis Anda Jika 

Dampaknya..ketika kompetitor yang lebih bisa merangkul teknologi akan bisa memangkas biaya besar-besaran, sedangkan kita masih bermasalah dengan human capital, dengan pekerja yang sibuk mendemo karena upah kerendahan.
Kita pun sebagai business owner berdalih.. Tolonglah karyawan ikut mengerti.. bisnis kita sedang berjuang dari kebangkrutan.
Disatu sisi karyawan juga menahan himpitan kebutuhan rumah tangganya.

Jika kondisinya seperti ini, bagaimana kita akan mendapatkan suasana kerja yang kondusif.

Gak heran jika salah satu perusahaan asuransi jepang Fukoku Mutual Life Insurance mengganti 30 karyawannya dengan sebuah mesin berbasis Artificial Intelligence. Dampaknya produktivitas melonjak naik 30%.

Mesin ini gak pernah ngeluh, gak pernah komplain, gak pernah minta cuti.

Jika Anda seorang investor, mana coba yang kira-kira kita pilih?

Tentu saja yang memberikan margin paling besar

Investor mah gak pernah mau tau caranya seperti apa.. yang penting yang cuannya paling besar ya itulah yang menang.
Ahh gak manusiawi.. kasihan kan karyawan nya jadi kehilangan pekerjaan.
Percayalah.. era digital memang akan memberangus pekerjaan yang sifatnya rutinitas dan repetitif atau berulang-ulang.
Tapi.. ia juga membuka ribuan lapangan pekerjaan baru, bisnis baru yang sebelumya sama sekali tidak terpikirkan.

Dulu buka warung ditempat yang nyelempit, sama sekali tidak memungkinkan. Tempat harus strategis, sewa mahal. Sekarang dari rumah ditengah kampung pun bisa bikin makanan yang gak pernah sepi orderan. Gara-gara Go-Food.. 

Dari rumah di pucuk gunung juga bikin tutorial pemasaran, memasak, kerajinan tangan dan banyak lainnya. Yang intinya memang mau merangkul perubahan.

Kembali ke pertanyaan diatas.. kenapa BUSINESS LEADER sering terlambat ketika mengambil keputusan dan merespon keadaan..

Kita perhatikan grafik Hukum Martec ini, yang menggambarkan pola perkembangan teknologi dan organisasi

Teknologi meningkat dengan amat pesatnya secara EXPONENTIAL, sedangkan perubahan pada organisasi hanya berjalan pada LOGARITHMIC rate

Gap nya terlalu timpang

Sebuah bisnis rintisan..start up.. meskipun mereka kecil, karena menguasai teknologi mereka bisa berkembang dan bertumbuh secara eksponential

Sedangkan organisasi-organisasi bisnis besar hanya mampu bertumbuh secara pola incremental biasa

Menurut hukum INCREMENTAL.. bisa tumbuh sepuluh persen setahun itu sudah bagus banget dan sehat

Apalagi jika valuasinya sudah mencapai trilyunan

The "Law of big number" makin gede valuasi perusahaan makin seret dan berat naiknya

Masalahnya.. pertumbuhan sebuah bisnis di era digital ini keluar dari pakem

Tengok saja UBER..

Diluar berbagai skandal yang dialami foundernya di Kalanick, pertumbuhan Uber ini memang mencengangkan

Hanya butuh 5,5 tahun bagi Uber untuk mencapai valuasi 68 miliar dolar (2015), dan General Motors meraih nilai ini membutuhkan waktu 107 tahun

Kondisi ini mirip juga dengan Gojek nya Om Nadiem yang terinspirasi sama si Uber, yang mampu mengalahkan valuasi Garuda dan BlueBird yang dirintis dalam rentang waktu yang panjang.

Saat ini valuasi Gojek sudah mencapai 10 milyar US dollar atau 142 triliun. Nilai itu sudah 14x dari nilai valuasi Garuda yang masih di kisaran 11 triliun rupiah.

Yang Saya garis bawahi disini adalah.. sekarang peta persaingan bisnis di era digital tidak bisa diatasi dengan pola pikir tradisional

Mindset Incremental sudah terbukti menyerah dan mengaku kalah

Terlepas apapun bisnis Anda, berapapun skalanya saat ini, model kepemimpinan yang digunakan adalah EXPONENTIAL LEADERSHIP berbasiskan EXPONENTIAL MINDSET

Bayangkan jika anda memiliki sebuah bisnis yang bertumbuh secara incremental, sedangkan kompetitor Anda bertumbuh secara exponential.. persainganya sudah menjadi tidak relevan.. tidak fair lagi.

Baca Juga : Ide bisnis Sepele tapi malah sukses

Ukurannya bukan seberapa besar kita saat ini.. namun bagaimana cara kita bertumbuh

Bagaimana cara mendalami dan menerapkan Eksponensial Leadership pada bisnis kita

Demikian artikel sederhana mengenai  Bisnis sudah Growth Tapi Masih Collapse Juga

Jika artikel ini bermanfaat silahkan di share !!!

Jika ada kritik dan saran silahkan tulis di kolom komentar !!!

daftarkan email anda untuk berlangganan artikel dengan gratis !!

0 Response to "Bisnis sudah Growth Tapi Masih Collapse Juga"

Posting Komentar