Kesalahan Akademisi Kuliah Saat ini di Indonesia


Kesalahan Akademisi Kuliah Saat ini di Indonesia

Nak, kesalahan utama akademisi republik ini adalah meninggalkan textbooks yg mendalam, analitis, kritis, komprehensif, shahih dan mutawatir. Kalau di bidang komputer, melupakan russell, sipser, sommerville, dennis, witten, aggarwal, atau tannenbaum. Banyak yg mengesampingkan pentingnya pemahaman concepts, fundamental and hard core theory of computing, dan malah menistakan diri, menggemari buku2 instan, dangkal, berisi soal2 multiple choice, persiapan ujian sertifikasi produk dari vendor, yg kadang ga jelas sanad dan matannya.

Dalam setahun saya muter ratusan kampus, alasan sohib2 di kampus selalu sama, karena pengen dekat ke industri. Lha mereka lupa dari senin-jumat saya hidup di dunia industri. Dan saya lebih butuh SDM yg memahami konsep dan fundamental aspects dg baik, dan memiliki kemampuan analitis utk menyelesaikan masalah secara komprehensif. Daripada pemegang sertifikasi industri yg lemah di kemampuan analisis, mikirnya dangkal akibat kebanyakan ngapalin bank soal, dan kepalanya rusak oleh soal2 multiple choice.

Baca Juga : Jangan Memulai Usaha dengan Berhutang

Orang komputer bisa coding? wajar, itu levelnya di semester 1 dan 2, matkul pemrograman dasar dan lanjut. Coding canggih, tapi ga bisa mengestimasi cost dan effort, ga bisa ngembangin software yg sesuai kebutuhan dan layak secara ROI dan BEP? Berarti ga lulus matkul systems analysis and design. Coding aplikasi CRUD bisa, tapi stress dan sakit perut ketika harus masukin perhitungan gain ratio dan fourier transform ke code? Lha itu programmer level SMK/D1/D2 masbro.

Ini tahun 2020, bukan tahun 1990. Industri ga hanya butuh lulusan S1 yg hanya bisa coding aplikasi CRUD, karena perang industri masuk ke wilayah perang algoritma machine learning, meng-improve berbagai method, algorithm dan mechanism, dan juga memperbaiki berbagai metodologi software engineering supaya pengembangan produk lebih punya agility, kualitas tetap terjaga tapi harus faster time to market, plus lebih sesuai kebutuhan pengguna. Bahasanya IEEE, software yg berkualitas = ada benefit + sesuai kebutuhan.

Tuntutan lulusan S1 itu bukan ke clerical and psychomotoric work ala SMK/D1/D2, tapi harus ke conceptual dan analytical work. Maknanya? Ya kudu paham penghitungan software effort estimation, ga gagap konsep refactoring dan design pattern, ga linglung kalau harus milih algoritma data preprocessing yg bener. Ngerti bedanya wrapper, filter dan embedded, paham kapan pakai feature extraction atau feature selection. Ga stress mbedain masalah mana yg sebaiknya butuh penyelesaian heuristics dan mana yg statistics. Dan ga perlu khawatir itu semua ada di sekujur matkul semester 1-6mu, dan akan dipelajari lebih dalam lagi ketika masuk ke matkul konsentrasi semester 7-8. Konsentrasi akan membawa kita ke target kompetensi dan profesi, apakah software engineering, data science, image processing, computer vision, computer security, dsb. Industri lebih butuh pemahaman mendalam tentang itu, karena perang industri itu perang IPR (hak cipta, patent, merk dagang, rahasia dagang, etc). Aplikasi CRUDmu, instalasi sistem operasimu, atau settingan jaringan komputermu yg keren itu, sayangnya ga iso dinggo ngurus patent nak!

Baca Juga : Cara Melunasi Hutang dengan Cepat tanpa Berhutang Lagi

Ayo, back to basic nak, kembali lagi konsentrasi ke textbooksmu, seriusi lagi memahami dg sabar dan pelan2 fundamental aspects of computing, lupakan sertifikasi2 atau dril2 soal multiple choice. Kampus merdeka itu maknanya, mahasiswanya merdeka, ga terbelenggu harus nyari contekan sana sini hanya utk ngitung use case points, neural network, atau decision tree.

Demikian artikel sederhana mengenai  Kesalahan Akademisi Kuliah Saat ini di Indonesia

Jika artikel ini bermanfaat silahkan di share !!!

Jika ada kritik dan saran silahkan tulis di kolom komentar !!!-

0 Response to "Kesalahan Akademisi Kuliah Saat ini di Indonesia"

Posting Komentar