Ketika Masa itu Sudah Selesai



Ketika Masa itu Sudah Selesai

Kapan hari, anakku dan aku pergi ke mall untuk membeli kado. Karena perlu membungkusnya juga, maka kami pergi ke layanan bungkus kado kreatif. Kebetulan letaknya ada di dekat tempat jualan mainan anak-anak.

Seketika, aku melihat rak yang memajang tiga figur Little Pony berukuran besar-besar. Nesa dulu kegilaan mengoleksi boneka ini. Karena saat itu kami masih kismin, koleksinya hanya yang berukuran kecil-kecil, sebesar kepalan tangan orang dewasa saja.

“Nes, mau mama beliin?” tanyaku menggodanya.

Dia ketawa doang, lalu kembali sibuk memilih-milih kartu ucapan.

Baca Juga : Selamanya Anak Tidak Bisa Membalas Budi Orang Tua

“Dulu kamu sampai nangis-nangis dan mau susah payah menabung buat beli ini.... sekarang nggak pengen? Mama beliin selusin niiiih....”

Dia ngakak sambil mendekati rak, memeriksa pajangan itu sambil merenung,

“Iya ya. Dulu aku pengeeeeen sekali barang ini. Rasanya nggak pernah cukup. Selalu mau lagi, mau lagi. Apa yang dulu hinggap di kepalaku ya?”

“Mama nggak tahu. Mama cuma tahu bahwa sekarang, kamu sudah selesai dengan Little Pony”

“Iya....” dia ketawa lagi, menggeleng-gelengkan kepala, dan berlalu.


Aku jadi teringat sebuah cerita singkat dari bukunya Anthony de Mello.

Dua orang biksu berjalan menyusuri desa, hendak menuju ke desa lain di kaki gunung. Di tengah jalan, mereka harus menyeberangi sungai yang sedang naik permukaan airnya, karena mungkin ada hujan deras di bagian hulu. Biasanya sungai ini cuma setinggi betis.

Di pinggir sungai itu, ada seorang gadis berdiri kebingungan. Dia perlu menyeberang, tetapi dia tidak bisa berenang, sementara air mengalir kencang, tinggi, dan bergolak.

Seorang biksu yang senior, menawarkan diri untuk menggendong gadis itu menyeberangi sungai. Kawannya, seorang biksu muda berjalan di belakang mereka. Sesampai di seberang, si gadis membungkuk dan mengucapkan terimakasih, dibalas oleh para biksu, mereka saling membungkuk hormat. Mereka lalu berpencar arah.

Di sepanjang jalan menuju desa di kaki gunung, si biksu muda berkeluh-kesah, menyesalkan kenapa biksu senior melakukan perbuatan tadi. Bukankah kita harus menjaga diri untuk tidak menyentuh perempuan? Ini malah menggendongnya!

Biksu senior diam saja dan terus berjalan.

Setelah sampai di desa kaki gunung, mereka mencuci kaki dan tangan sebelum masuk ke gedung biara. Si biksu muda masih membahas perbuatan biksu senior.

Di pintu masuk, si biksu senior akhirnya bicara,

“Aku sudah meninggalkan perempuan itu di tepi sungai, berkilometer-kilometer yang lalu. Dan engkau masih membawanya di dalam kepalamu, sampai ke sini?”

Jika kita sudah selesai dengan sesuatu, kita tidak perlu melakukan penyangkalan diri atau berusaha keras menampik sesuatu itu. Kita akan move one dengan mudah, melepas kemelekatan, dan semua terjadi dengan ringan. Effortless. Damai. Ayem. Nyaman.

Ketika beberapa kawan merasa heran karena aku hanya punya beberapa lembar pakaian saja.... aku terdiam dan menyadari : Oh... iya ya? Apakah ini karena aku sudah selesai dengan gengsi dan kebutuhan untuk menjaga image melalui penampilan dan pakaian? Apakah aku sudah sampai pada pemahaman bahwa kualitas diri dan hidupku tidak ditentukan oleh kostumku?

Aku memang orang yang fungsional, memandang segala sesuatu dari sudut fungsi. Bagiku pakaian itu BUKAN merupakan ekspresi diri, BUKAN sebuah pertunjukan status, BUKAN mau mengidentifikasi diri sebagai anggota dari kelompok atau bangsa tertentu..... Bagiku pakaian itu berfungsi melindungi tubuhku dari dinginnya udara atau panas matahari. Fungsi sosialnya hanyalah : aku berpakaian pantas untuk menghargai event yang kuhadiri dan orang lain di acara tersebut. Sudah. Mungkin cara berpikir fungsional ini yang membuatku mudah selesai dengan baju.

Well, kita bisa saja selesai dengan hal lain juga.

Beberapa kawan, kulihat sudah selesai dengan makanan. Mereka bisa diet dengan effortless, nggak ngidam ini itu. Mereka merdeka dan bahagia saja dengan pola makan dan jenis asupannya saat ini.

Beberapa kawan, sudah selesai dengan pernikahannya dan mantan pasangannya. Mereka tidak tertarik berkeluh-kesah, bahkan ngerumpiin pun sudah nggak napsu. Sebagian malah sudah bisa berdamai dan menjalin hubungan normal selayaknya sesama manusia dewasa yang memahami arti damai.

Beberapa kawan, sudah selesai dengan harta. Mereka nggak punya kebutuhan untuk memamerkan benda milik dan aset-asetnya.... Nggak ngiri dengan orang lain yang lebih... juga nggak nyinyir ke orang lain yang kurang. Biasa aja. Hal harta sudah bukan menjadi topik yang menarik baginya.

Beberapa kawan, kulihat sudah selesai dengan agama. Mereka nggak tertarik lagi, bahkan membahas atau menertawakan orang yang masih beragama pun, sudah nggak selera. Fokus mereka sudah lain, sekarang. Lebih menikmati hidup dan bersyukur dengan caranya sendiri.


Orang-orang yang sudah selesai dengan anu, ini, itu.... kulihat hidup lebih damai. TIDAK MENCARI-CARI KESALAHAN ORANG LAIN. Tidak menghina, tidak memuji berlebihan, intinya : tidak mempermasalahkan.

Aku jadi berpikir : sepertinya aku punya proyek besar sebelum aku mati. Yaitu aku harus sudah selesai dengan banyaaaaak hal.
Supaya pergiku tenang. Supaya jiwaku ayem ketika meninggalkan kehidupan dan segala pencapaian serta kegagalanku.

Aku bahkan ingin juga selesai dengan obsesi akan kesucian diri dan hak masuk surga. Biarlah itu menjadi hak prerogatif Allah (jika Dia benar ada)... atau ya biar jadi apapun lah... Aku siap saja menerima semua konsekuensi. Dalam damai.

Aku ingin bisa mengucapkan ‘sudah selesai’ ketika menghembuskan nafas terakhir, dengan keadaan kesadaran yang sungguh-sungguh SELESAI.

Baca Juga : 10 Kunci Kesuksesan

Demikian sedikit tulisan mengenai  Ketika Masa itu Sudah Selesai

Jika artikel ini bermanfaat silahkan di share !!!

Jika ada kritik dan saran silahkan tulis di kolom komentar !!!

0 Response to "Ketika Masa itu Sudah Selesai"

Posting Komentar