Punya Tujuan Ga Sempet Jadi Brandalan


Punya Tujuan Ga Sempet Jadi Brandalan

“Ma...do you expect me, someday, to get married and give you grand children?”

“What!? Kenapa kamu tanya begitu?”

“Ya ini makanya aku tanya, mama ekspek aku apa?”

“Ooooh itu. Mama cuma berharap kamu bahagia. Ambillah keputusan-keputusan dalam hidupmu, demi KAMU. Bukan demi mama. Itu kan hidupmu. Kamu yang jalanin.”

“Memangnya mama nggak pengen punya cucu?”

“Mama pengen kamu bahagia. Sekarang mama tanya balik : kamu pengennya apa? Ngasih cucu?”

Dia terdiam.


Oh aku sudah menjadi ibunya, seumur hidupnya. Aku paham setiap ekspresi dan gerakan matanya, dan keraguannya. Bagaimana tidak? Sejak bayi hari pertama, akulah yang mengurusnya sendiri, memandikannya, bermain, belajar, membaca, menemaninya tidur......(baby sitter cuma bertugas menyiapkan makan, mencuci popok, dan bergantian denganku mengejar-ngejarnya di seantero taman karena tenaga anak ini seperti tak pernah habis)

“Pengenmu gimana?” Tanyaku lagi.

“Ma... banyak banget yang bisa kulakukan. This planet is dying...! The pollution is getting worse and worse, and if we don’t stop the climate change, human will not be able to live here in 2100...! The damage is almost unstoppable...!”

(terjemahan : Planet ini sekarat. Polusinya memburuk dan semakin buruk, dan kalau kita nggak menghentikan laju perubahan cuaca, manusia nggak akan bisa lagi hidup di planet ini tahun 2100...! Kerusakannya sudah nyaris tak terbendung...!)

Ya. Kemarin kami sama-sama melihat foto, seekor beruang kutub berbulu putih, kurus dan terlihat kelaparan di padang tundra yang esnya sudah hilang semua. Foto yang meremukkan hati.

“I will be dead by then,” kataku mencoba melucu, menepis ingatanku akan foto itu.
Salah. Anakku malah jadi melotot. Oops sorry. Aku kembali serius.

“Jadi, apa rencanamu?”

“I want to be a scientist, and do something about it.”

“Okay...! Setuju..! Mama dukung...!”

Dia memandangku dengan wajah haru... alisnya naik, matanya sayu.

“....really....???”

Aku dipeluknya erat-erat.

“Iya sayang. Really” jawabku dengan sesak karena dia memelukku semakin erat.

“Terus mama mau ngapain kalau aku sibuk kerja kelak? Mama bakal kesepian..!”

“Halah... kesepian dan rasa bosan itu kan cuma menyerang orang-orang pasif yang mati ide. Mama bakal punya banyak proyek juga kok....”

“Tapi kan mama bakal tua...!”

“Terus kenapa kalau tua?”

“Ya mana bisa kerja terus? Kan bakal gak ada tenaga lagi?”

“Siapa bilang? Mama akan jadi nenek-nenek energik sampai tua. Sehat kuat, lalu tiba-tiba meninggal kayak eyang kakungmu karena telomernya habis. Tanpa sakit.”

“Maaaaa...!” dia protes. “Serius doooong...!”

“Mama serius. You just see ya. Kamu nggak perlu kuatir tentang mama. Kamu jalan aja terus menuju masa depan. Lakukan semua yang kamu pikir baik buat hidupmu, jalani panggilanmu. Mama akan ngiringin sampai semampu mama.”

“Tapi mama akan ngapain kalau aku sibuk kerja? Kalau mama nggak punya cucu.. kan kasian banget.”

“Nesa, gini ya, denger...! Umurmu masih 17. Ngapain kamu mikir soal nikah dan punya anak? Demi ngasih cucu doang pula, urgensinya apa? Mama nggak bakal mati ngenes cuma karena nggak punya cucu. Mama malah bakal mati penasaran kalau lihat cucu dan cicit mama hidup di planet yang makin rusak, dan nggak bisa makan karena lahan habis buat kuburan dan perumahan...! Mana tega ngeliat anak keturunan hidup sengsara dihajar polusi dan over populasi yang parah?”

“Makanya mama nggak mau mati dikubur. Kremasi aja. Biar bumi bisa dipakai untuk orang yang masih hidup...! Sudah mati kok masih bikin sesak bumi aja.” Lanjutku. Berusaha meyakinkan anakku, bahwa ibunya bener-bener mendukungnya.

Dia memandangiku dengan mata berkaca-kaca.

“Seumuranmu itu jangan mikir soal beranak-pinak. Bikin anak itu gampang. Tinggal ML di masa subur, beres. Padahal yang utama dan terpenting adalah : memastikan bahwa bumi ini siap. Daya dukung alamnya siap. Calon-calon ortu siap.”

“Jadi mama ngusulin aku gimana?”

“Ya jalan terus di track yang sudah kamu pilih. Kamu kuat di science. Passionmu ada pada science, engeneering dan problem solving.”

“Iya....”

“Pesen mama cuma 2 sih...”

“Apa itu?”

“Pertama, pelihara terus relasi dengan teman-temanmu yang sekarang. Mereka hebat-hebat. Dan mereka akan terpencar di seluruh penjuru dunia. Mereka akan menjadi network yang bagus sekali di masa depan, untuk team up memperbaiki planet ini.”

“Yang kedua?”

“Kamu ikuti terus perkembangan iptek di Israel...! Bangsa itu diam-diam menguasai dunia dengan teknologinya. You will be surprise. Mereka sudah mengembangkan banyak sekali energi terbarukan. Bahkan sudah memanen air minum dari udara...”

“Hah...?” dia terkejut.
Lalu mulai browsing.
Lalu tenggelam dalam keasikannya...

Lalu emaknya bisa medsosan lagi...

Memang enak jadi ibu yang punya anak yang futuristik.
Aku nggak perlu kuatir anakku jadi rusak karena pergaulan bebas dan seks liar. Karena fokusnya ada pada masa depan dan menyelamatkan bumi....

Bu-ibu, arahkan anak-anakmu untuk fokus dan memiliki tujuan hidup (tentu, yang dipilihnya sendiri!). Niscaya mereka akan asik mengejarnya. Dan nggak sempet jadi berandalan.

Baca Juga : 10 Kunci Kesuksesan

Demikian sedikit tulisan mengenai  Punya Tujuan Ga Sempet Jadi Brandalan

Jika artikel ini bermanfaat silahkan di share !!!

Jika ada kritik dan saran silahkan tulis di kolom komentar !!!

0 Response to "Punya Tujuan Ga Sempet Jadi Brandalan"

Posting Komentar