Perjalanan Menjadi Pasien Covid-19 di Awal Pandemi


Perjalanan Menjadi Pasien Covid-19 di Awal Pandemi


Awalnya pada akhir Februari saya terkena flu ketika berkunjung ke salah satu RS swasta di Jakarta untuk mengobati anak yg diare. Saat itu sebenarnya virus corona sudah merebak di dunia. Tapi karena di Indonesia beritanya tidak ada wabah virus ini, saya jadi abai. Apalagi tidak berapa lama flu saya sudah berangsur membaik tanpa pengobatan spesifik.

Senin, 2 Maret 2020
Mulai heboh berita pasien covid pertama di Indonesia. Siapa pasiennya, dimana rumahnya, bagaimana tertularnya sampai di RS mana dirawat, semua dibahas orang seantero Indonesia. Saat itu sebenarnya saya tidak terlalu mengikuti karena hari itu atasan saya baru datang dari Portugal dan kami memiliki jadwal meeting padat untuk 3 hari kedepan. Ditambah terdapatnya beberapa deadline proyek membuat saya sibuk dan lupa bahwa sebenarnya baru recovery dari flu sehingga tubuh jadi sedikit drop. Sebenarnya istri sudah berkali-kali menyuruh minum multivitamin,tapi saya lebih sering lupa. 


Minggu, 8 Maret 2020
Saya mulai tidak enak badan. Sakit kepala, sedikit meriang, tenggorokan sakit, agak lemas, sendi terasa pegal, tapi saya berfikir mungkin ini masih lanjutan flu sebelumnya. Apalagi suhu tubuh cuma sekitar 37,8. Saya minta advise sama adik yang kebetulan dokter, lalu diresepkan obat penurun panas dan anti radang. Sedikit membaik walau belum sepenuhnya hilang.

Senin, 9 Maret 2020
Saya tetap masuk kantor walau masih terasa tidak enak badan. Saya fikir, mungkin setelah beraktifitas akan membaik dengan sendirinya. Tapi saya salah. Dikantor saya lemas, diare ringan, sampai akhirnya ijin pulang cepat karna ingin check up ke dokter. Karna mendapat jadwal internist jam 7 malam di salah satu RS swasta, saya pulang dulu ke rumah dan berangkat ke RS tersebut menjelang magrib dengan istri dan kedua anak. Dua tahun terakhir kami memang tidak menggunakan jasa ART lagi, sehingga mau ga mau istri saya selalu mengajak kedua anak kami yang berumur 6 dan 3 tahun kemanapun dia pergi.
Di RS, kami semua di screening cek suhu tubuh sebelum masuk. Karna suhu saya waktu itu 37,8 ditambah memiliki riwayat kontak dengan orang dari luar negri dalam 14 hari terakhir, saya sempat tidak diperbolehkan masuk. Tapi karna memang datang untuk konsultasi ke dokter dan sudah bikin janji, saya dipersilakan langsung menuju poli internist. 
Saya menyampaikan semua gejala yang dirasakan, dan dokter berkesimpulan saya hanya radang tenggorokan sementara gelaja lainnya itu muncul dipicu oleh radang tersebut. Namun karna belakang mata terasa sakit, dokter meminta saya untuk tes darah. Hasilnya negatif thypoid dan Dengue. Sehingga hanya diresepkan obat demam dan obat radang seperti yang diresepkan adik saya sebelumnya, ditambah antibiotik untuk 5 hari. Saya juga diminta istirahat tidak usah masuk kantor dulu selama 3 hari. 

Kamis, 12 Maret 2020
Tiga hari berlalu tapi gejala yang saya rasakan  tidak banyak berubah. Selama masa istirahat tersebut saya dan istri mulai googling tentang gejala covid. Bukan. Saya tidak batuk apalagi sesak. Sepertinya ini beneran cuma radang doang. Sehingga selasa saya sempat ke kantor sebentar beresin kerjaan dan rabunya juga sempat berangkat meeting external menggunakan KRL. Tentunya saya selalu menggunakan masker sepanjang perjalanan dan meeting sesuai anjuran pemerintah karena saya sedang sakit. 
Namun malamnya saya mendapat kabar bahwa atasan saya juga mengalami gejala yang sama dengan saya ditambah batuk dan sedikit sesak. Beliau mendatangi RS swasta yang sama dan sempat diisolasikan di IGD covid disana. Akan tetapi dokter juga mendiagnosa radang tenggorokan dan mempersilakan beliau pulang. Selanjutnya beliau menutuskan mengisolasikan diri dari keluarga karena curiga covid dan akan berangkat pulang ke negaranya besok malamnya. Sehubungan dengan itu teman-teman kantor meminta saya tidak usah masuk kantor dulu sampai benar-benar sembuh.

Sabtu, 14 Maret 2020
Sejak mendapat kabar dari atasan tempo hari, saya dan istri sedikit was was. Apalagi sorenya saya mulai batuk dan susah makan. Kami memutuskan untuk segera melakukan tes covid agar jelas penanganannya dan tidak menyebar ke orang lain jika benar ini covid. Awalnya istri saya mengatakan, sesuai arahan Gubernur, jika mengalami gejala covid tidak perlu datang ke RS. Namun dapat menghubungi hotline Pemda DKI lalu petugas akan mendatangi rumah untuk melakukan tes swab. Maksudnya agar meminimalisir resiko menularkan ke orang lain jika kita datang ke RS. Awalnya saya menolak karena khawatir hal tersebut akan membuat heboh satu komplek dan ujungnya membuat keluarga kami dijauhi dan dikucilkan karena masyarakat belakangan ini terutama Jakarta sudah makin parno seiring bertambahnya jumlah pasien covid di Indonesia. Tapi setelah banyak pertimbangan, saya coba juga hubungi satgas covid DKI. Telfon saya tidak pernah nyambung, dan WA yang saya kirim tidak dibalas. Akhirnya saya putuskan besok akan datang sendirian ke RS rujukan untuk minta di tes covid. 

Minggu, 15 Maret 2020
Saya ke RS rujukan terdekat dari rumah yaitu RSUD Pasar Minggu. Saat itu demam saya sudah di 38. Saat screening di lobby, saya langsung dilarang masuk dan diarahkan ke IGD. Disana saya harus antri mendaftar dan antriannya sangat panjang. Selain karena sudah mulai lemas dan juga takut resiko saling menularkan jika antri dengan orang sebanyak itu, saya memutuskan menuju RS rujukan terdekat lainnya yaitu RSUP Fatmawati. Info dari adik saya, disana terdapat poli non BPJS sehingga harapannya disana tidak akan antri panjang seperti di RSUD Pasar Minggu. Di Fatmawati saya juga langsung diarahkan ke IGD. Memang tidak ada antrian,namun saya ditolak oleh petugas rawat dengan alasan mereka tidak dapat melakukan tes covid. Saya diminta melapor ke puskesmas terdekat untuk diperiksa, dan jika menurut pihak puskesmas saya memang memiliki gejala covid dan layak di tes, nanti akan di jadwalkan oleh Dinkes DKI untuk dilakukan tes. Pada saat yang bersamaan ada WA masuk dari satgas covid. Senada dengan petugas di Fatmawati, saya juga diminta memeriksakan diri ke puskesmas terlebih dahulu. Apa? Harus mulai dr puskesmas? Kalo benar covid,entah berapa banyak orang yang berpotensi saya tulari. Sampai disini saya menyerah untuk ke RS Rujukan. Saat itu dada saya sudah mulai terasa sedikit sakit. Saya fikir mungkin efek mag saya yang kambuh karena sudah mulai susah makan. 
Saya menghubungi kembali adik saya untuk mendapatkan advise terkait tes covid. Dia seorang dokter spesialis yang praktek di beberapa RS swasta di Jadetabek, namun bukan spesialis paru. Dia mendapat informasi bahwa lab mikrobiologi FKUI menerima pemeriksaan covid untuk umum kecuali ODP dan PDP, namun harus bayar mandiri. Okelah, saya ga masalah harus bayar mandiri. Toh ada asuransi kantor. Tapi untuk tes, syaratnya harus mendapatkan surat rekomendasi dari dokter. Akan lebih baik jika internist atau dokter paru.

Senin, 16 Maret 2020
Saya datang ke salah satu RS swasta lain di Jakarta Selatan. Saya membuat janji dengan dokter internist gastro jam 7 malam. Rencananya saya ingin konsultasi terkait mag yang sampai bikin dada sakit, sekalian meminta rekomendasi untuk melakukan tes covid. Saat pemeriksaan sebelum ke ruang praktek dokter, tiba-tiba saya demam 38,5 dan sangat lemas. Saya sampaikan ke suster kalau saya pernah kontak dengan WNA dari luar negri. Mereka langsung panik lalu membawa saya ke IGD khusus isolasi suspect covid19. Disana saya di cek darah dan rontgen paru. Hasil lab darah menunjukkan memang ada infeksi, dan hasil rontgen menunjukan kalau ada bronco pneumonia atau bercak di paru. Ternyata dada saya yang sesak bukan karena mag, tapi memang ada masalah di paru-paru saya. Padahal saya tidak merokok dan tidak memiliki riwayat penyakit paru sebelumnya. 
Tidak berapa lama dada saya yang sakit berubah menjadi sesak nafas. Saya meminta suster untuk memberikan oksigen, namun ternyata di IGD tersebut tidak tersedia. Setelah hampir sejam, baru mereka mendapatkan oksigen portable dan langsung dipasangkan agar saya bisa bernafas normal kembali. Mereka juga memasangkan cairan infus untuk pemberian antibiotik. Malam itu saya tidak diperbolehkan pulang sebelum ada feedback laporan dari RS ke Dinkes terkait kondisi saya yang dicurigai covid. Menurut suster di RS, prosedurnya jika saya ditetapkan sebagai ODP saya dipersilakan pulang untuk isolasi mandiri selama 14 hari. Namun jika saya ditetapkan sebagai PDP, saya akan dirujuk ke RS Rujukan Covid untuk diperiksa lebih lanjut. Akan tetapi, sekalipun saya ditetapkan sebagai PDP, tidak bisa langsung dilakukan tes swab karena RS rujukan akan melakukan penilaian dulu apakah perlu dilakukan swab atau tidak karena terbatasnya jumlah kit pengujian. Apa? Dengan kondisi dan gejala sudah seperti ini saya masih tetap tidak pasti akan di tes? Padahal di luar negri banyak orang yang tidak bergejala namun ketika di tes ternyata positif. Sementara saya yang berinisiatif memeriksakan diri bahkan tidak masalah jika harus membayar, masih sangat sulit untuk tes. Bagaimana dengan orang yang tidak berinisiatif dan tidak mampu membayar. Bahkan adik saya sudah mencarikan info ke sejawat-sejawatnya tetap kesulitan membantu saya untuk mendapatkan akses tes swab karena memang prosedur untuk tes yang ditetapkan pemerintah sangat sulit. Saya benar-benar tidak bisa membayangkan seperti apa wabah ini sebentar lagi di Indonesia.

Selasa, 17 Maret 2020
Paginya saya ditetapkan sebagai ODP karena riwayat kontak saya bukan dengan pasien positif. Pagi itu saya juga mendapat info dari kantor bahwa atasan saya begitu sampai di Portugal langsung di isolasi di RS dengan diagnosa awal infeksi paru. Beliau disana juga langsung di tes covid namun hasilnya belum keluar. Urutan gejalanya persis sama dengan saya. Saya ga habis fikir bagaimana beliau bisa lolos di bandara Indonesia. 
Saat saya dipersiapkan untuk pulang dengan status ODP, istri mengabarkan kalau akhirnya dia menghubungi kenalannya yang memiliki akses langsung ke kementerian kesehatan. Sehingga saya akan dijadwalkan untuk di swab hari ini walaupun status yang diberikan dinkes cuma ODP. Pihak dinkes akan datang ke RS swasta ini untuk melakukan swab. Saya mengabarkan hal ini ke RS sehingga kepulangan saya ditunda dan diminta menunggu di RS. Saya sedikit lega akhirnya bisa tes. Tapi juga kesal karena harus menggunakan jalur kekuasaan seperti ini hanya untuk melakukan tes. Sebenarnya kami tidak suka menggunakan jalur seperti ini. Tapi istri saya bilang dia ga punya pilihan lain karena sudah mentok kalau mengikuti sesuai aturan. Sementara taruhannya adalah nyawa dan keselamatan orang banyak.
Selama menunggu, nafas saya terasa makin sesak dan demam saya makin tinggi. Selalu diatas 39. Waktu menunggu itu saya juga mendapat kabar hasil tes atasan saya di portugal sudah keluar dan positif covid19. Bahkan istrinya yang sekarang cuma sedikit sakit tenggorokan juga positif. Namun kondisi atasan sudah mulai membaik karena mendapatkan perawatan yang intensif disana. Dengan begini harusnya status saya sudah jadi PDP sesuai SOP pemerintah.
Sorenya petugas dinkes datang melakukan swab. Ada cuttonbud panjang yang dimasukkan ke bagian hidung saya. Sangat dalam, sakit rasanya. Setelah swab petugas buru-buru pergi tanpa bisa menjawab pertanyaan saya terkait kapan hasil tes keluar. Kemudian lagi-lagi saya dipersilakan pulang oleh pihak RS selama menunggu hasil swab keluar karena menurut mereka kondisi saya masih stabil. Dan mereka tidak bisa mengubah status saya yang ODP menjadi PDP tanpa persetujuan oleh pihak dinkes.
Setelah mengabari keluarga, tante saya yang internist di Pekanbaru ngotot melarang saya pulang dan harus tetap dirawat di RS. Dia yakin saya sudah terpapar covid19 setelah dia konsultasi terkait gejala yang saya alami dengan sejawatnya yang merawat pasien covid19 di RS Persahabatan. Dia khawatir jika saya pulang dan sesak parah dirumah, istri ga akan mampu menangani. Apalagi dikhawatirkan saya juga akan menulari istri dan anak-anak. Jadilah para dokter dikeluarga sibuk menelfon RS meminta saya untuk dirawat dulu. Namun pihak RS juga ngotot bilang tidak bisa karena kamar penuh dan mereka tidak memiliki kemampuan dalam merawat pasien covid. Sementara sesuai prosedur di RS rujukan covid pemerintah, mereka hanya menerima pasien rujukan yang sudah positif covid19 karena terbatasnya jumlah ruangan isolasi. Jadi selama menunggu hasil sekitar 2-3 hari saya diminta isolasi mandiri dirumah dulu.
Malam itu bergerilyalah para dokter dikeluarga saya untuk menghubungi sejawatnya di seluruh RS rujukan covid. Ternyata mereka dapat menerima pasien PDP jika saya langsung datang ke IGD atau istilahnya rujuk lepas. Jadi, jika nanti klinis pasien PDP dinyatakan layak dilakukan perawatan, RS tersebut akan menerima untuk dirawat. Namun jika tidak, tetap akan diminta pulang sambil menunggu hasil swab. Hampir istri saya mengambil opsi ini. Tapi nanti saya datang kesana dengan siapa? Istri? Lalu kedua anak saya harus ikut dibawa ke RS? Untuk saat ini saya sangat mengerti tidak ada orang sekalipun saudara yang mau dititipi anak-anak saya. karena walaupun mereka tak bergejala, ketika saya sudah PDP otomatis mereka menjadi ODP dan kemungkinan besar sudah terpapar oleh saya sehingga wajib isolasi mandiri selama 14 hari. Saudara dan kerabat? Saya sangat mengerti untuk sekarang mereka semua menghindari kontak langsung dengan saya. Nyetir sendiri? Saya benar-benar tidak kuat. Gocar atau taksi? Sungguh zolim saya terhadap drivernya. Ini masih hari ke 16 pasca pengumunan pasien pertama covid. Sudah terbayang gimana chaos nya nanti di RS ketika virus sudah mewabah jika prosedurnya masih seperti ini. 
Sebenarnya saya juga sudah muak dengan perlakuan RS ini yang berkali-kali seolah ingin mengusir saya segera. Jelas-jelas kondisi saya sesak dan demam tinggi tapi mereka tetap ngotot bilang saya stabil. Saya tau sebenarnya mereka takut jika orang-orang tahu mereka merawat pasien suspect covid, RS mereka akan sepi seperti RS swasta di Depok yang apes merawat pasien covid pertama di indonesia beberapa waktu lalu. Sebenarnya saya sudah nekad mau pulang sendiri, apalagi ketika saya tidak bisa menghubungi keluarga karena batrai HP saya habis dan tidak ada suster yang mau meminjamkan saya charger. Selain karena tante terus ngotot melarang, memang demam saya tidak juga turun walau pihak RS sudah mem "bom" saya dengan penurun panas agar saya bisa segera pulang.

Rabu, 18 Maret 2020
Kondisi saya makin tidak stabil. Demam makin tinggi, batuk makin parah dan dada makin sesak. Saya sangat menggigil karena kondisi AC yang sentral padahal saya sudah diberikan selimut berlapis. Saya masih di IGD khusus suspect covid dan keluarga diminta segera mencari RS rujukan jika memang ingin dirujuk. Teman-teman pun akhirnya ikut membantu mencarikan RS yang bisa menerima pasien PDP. Akhirnya melalui bantuan teman yang memiliki koneksi ke salah satu RS BUMN, ditambah adik saya punya sejawat yang kerja disana, saya bisa dirujuk kesana karena ternyata RS tersebut baru saja ditunjuk pemerintah sebagai salah satu RS BUMN rujukan covid. Namun karena status saya masih PDP, saya hanya bisa menempati ruang isolasi covid19 VVIP non subsidi pemerintah. Okelah, keluarga tidak masalah karena sekarang yang paling penting adalah keselamatan saya. Mungkin akan lebih baik saya disana karena dipastikan saya akan diisolasi sendirian tidak seperti di RS rujukan pemerintah lain yang tiap ruang isolasinya sudah diisi lebih dari 1 orang karena membludaknya jumlah pasien covid. Namun karena ruang VVIP tersebut sedang dipersiapkan dan baru bisa ditempati besoknya, keluarga kembali bernegosiasi dengan RS swasta tempat saya sekarang ini agar saya tidak dipulangkan dulu.
Akhirnya tante saya berhasil menghubungi sejawatnya yang merupakan tim satgas covid nasional. Melalui beliau, saya hari itu dipastikan akan tetap berada di RS swasta tersebut untuk besoknya di rujuk ke RS BUMN. Atas campur tangan beliau juga, saya malam itu bahkan bisa dipindahkan dari IGD covid ke ruang isolasi setelah dibantu penyelesaian administrasinya oleh ipar saya. Disini kondisi saya lebih stabil karena mendapat oksigen full dan jauh dari hiruk pikuk IGD. AC pun bisa saya matikan.

Kamis, 19 Maret 2020
Kondisi saya masih demam tinggi dan persiapan rujukan saya ke RS BUMN baru selesai sore hari. Karena ambulance untuk mengangkut saya harus didekontaminasi terlebih dahulu dan sepanjang jalur yang akan saya lewati harus dikosongkan dari orang-orang serta dijaga security. Orang-orang harus berada paling dekat 5m dari jalur yang saya lewati. Setelah saya lewat, sepanjang jalur juga langsung didisinfektan. Padahal saya sudah pakai masker 2 lapis dan didorong dengan kursi roda. Bukankah virus ini hanya menular lewat droplet? Saat itu saya benar-benar down. Sesampai di RS BUMN tersebut, saya langsung masuk ruang isolasi dan tidak lama di ambil foto rontgen. 
Malam itu kondisi saya makin tidak stabil sehingga malam terasa sangat panjang. Demam saya selalu diatas 40, sesak, batuk parah, muntah tiap makan, sangat menggigil dan meringkuk dibawah selimut walau AC sudah dimatikan. Ketika dokter visitpun saya nyaris tidak menyadarinya. Sepanjang malam suster memeriksa suhu dan kondisi klinis saya. Antibiotik, vitamin dan obat lambung mulai dimasukkan lewat infus. Malam itu nafas saya seperti marathon non stop saking sesaknya. Mungkin malam itu puncak perperangan antara virus dengan antibodi yang sudah diperkuat oleh obat-obatan, vitamin dan antibiotik. Saya ga bisa membayangkan melewati malam ini tanpa oksigen dan obat-obatan jika kemaren itu saya beneran pulang dari RS ke rumah selama menunggu hasil swab.

Jumat, 20 Maret 2020
Sesak saya sudah tidak separah semalam, namun kondisi yg lainnya masih sama. Obat-obatan terus di supply dan oksigen benar-benar sudah ga bisa lepas sama sekali. Ketika harus ke kamar mandi pun, baliknya akan langsung sesak dan harus segera langsung dipasang kembali. Hari itu siangnya saya kembali di tes swab. Kali ini oleh pihak lab RS. Namun hasil swab saya 3 hari lalu masih belum ada. Saat itu, satu hal yang membuat saya terus berjuang walau rasanya kadang sudah hampir menyerah saking susahnya bernafas. Teringat kata istri untuk terus berjuang karena betapa pedihnya jika kehilangan seseorang karena covid. Jangankan menemani saat-saat terakhir, bahkan untuk melihat yang terakhir kalinya saja keluarga tidak boleh. Keluarga hanya diperbolehkan menziarahi makam yang sudah tertutup sempurna sedangkan semua proses lainnya dilakukan oleh pihak rumah sakit dan pemprov tanpa mengikutsertakan keluarga karena akan diperlakukan sebagai jasad infeksius. Pernyataan itu yang harus ditandatangani keluarga saat RS menerima saya sebagai pasien suspect covid. Saya ga kebayang betapa pedihnya. Bukan saya saja yang tidak akan pernah melihat mereka, merekapun juga tidak akan pernah lagi melihat saya jika hal buruk tersebut terjadi. Terbayang langsung wajah anak-anak, istri, orang tua, dan saudara-saudara saya. Saya benar-benar harus berjuang sembuh.

Sabtu, 21 Maret 2020
Demam masih mancapai 40, namun sesak sudah mulai berkurang karena selalu dibantu oksigen. Menjelang siang demam sudah mulai turun ke 38 dan kondisi saya mulai stabil. AC kamar sudah mulai dinyalakan dan saya sudah mulai bisa makan. Namun batuk masih sering dan diiringi sesak setiap batuknya. Saya diminta tidak stres dan tidak banyak fikiran untuk mempercepat proses penyembuhan.

Senin, 23 Maret 2020
Saya di rontgen kembali. Dari hasilnya, menurut dokter kondisi paru-paru saya memburuk dibanding rontgen kamis lalu saat baru sampai disini. Sehingga dokter menambah antibiotik dan vitamin. Saya dijadwalkan untuk rontgen kembali kamis, dan harapannya hasilnya bisa membaik.

Selasa, 25 Maret 2020
Saya kembali di tes swab. Tapi kali ini lewat tenggorokan, bukan lewat hidung lagi. Ini adalah tes saya yang ketiga. Namun sampai hari ini hasil tes pertama dan kedua saya masih belum keluar. Keluarga saya bahkan sudah berusaha mencari info ke kenalan di dinkes DKI dan Litbangkes namun tetap belum ada. Menurut mereka, antrian pemeriksaan di Litbangkes sangat panjang karena seluruh pemeriksaan swab dari seluruh indonesia dikirim dan terpusat disana.

Rabu, 25 Maret 2020
Keadaan saya makin stabil walau kadang tiba-tiba sesak parah. Batuk cuma sesekali namun jika oksigen dilepas akan langsung sesak nafas. Hari itu saya mendapat kabar bahwa kedua hasil tes swab sudah keluar. Swab tanggal 17 Maret positif covid19, namun swab 20 Maret sudah negatif. Alhamdulillah. Berarti sesuai SOP covid, jika hasil swab yang 24 Maret lalu juga negatif, saya sudah boleh pulang. Saya benar-benar sudah rindu dengan anak-anak dan istri.

Kamis, 26 Maret 2020
Saya di rontgen kembali. Menurut dokter, hasilnya sudah lebih bagus dari rontgen sebelumnya. Jadi dokter paru penanggungjawab saya mengizinkan saya pulang walau hasil tes swab ketiga belum keluar. Karena menurut beliau, hasil swab tersebut diperkirakan akan keluar masih 5 hari lagi sementara klinis saya sudah jauh membaik. Namun setelah diskusi dengan keluarga terutama tante, menurut mereka akan lebih baik jika saya pulang setelah tidak sesak lagi tanpa menggunakan oksigen. Saat itu memang saya masih sesak jika oksigen dilepas. Apalagi saat itu saya masih batuk dan sesak parah setelahnya.

Jumat, 27 Maret 2020
Saya mulai berlatih sesekali melepas oksigen. Saya coba perlahan dan ketika mulai sesak saya pasang kembali. Begitu terus sampai saya tidur.

Sabtu, 28 Maret 2020
Saya sudah lepas infus, tinggal jarumnya saja yang masih terpasang untuk injeksi obat. Saat itu kedua tangan saya sudah bengkak karena sudah lima kali pindah jarum infus. Hari itu alhamdulillah saya bisa stabil tanpa bantuan oksigen lebih dari 12 jam. Hanya sesekali batuk namun sesaknya masih bisa dikendalikan. Akhirnya saya dan keluarga memutuskan bahwa saya akan pulang ke rumah esok harinya pada hari Minggu. Bertepatan dengan selesainya isolasi mandiri anak-anak dan istri saya sehingga mereka bisa menjemput saya. Alhamdulillah selama isolasi mereka bertiga tidak ada yang mengalami gejala covid. Kalaupun sempat tertular, mungkin imun tubuh mereka sudah mengalahkannya.

Minggu, 29 Maret 2020
Semua administrasi diselesaikan via online oleh adik saya dan pembayarannya dilakukan via transfer. Sehingga ketika anak dan istri saya datang menjemput, saya langsung bisa pulang dan istri saya tidak perlu mengurus apa-apa lagi di RS. Sebelum pulang saya disuruh mandi dengan sabun khusus lalu baju dan barang bawaan disemprot dengan disinfektan di pintu keluar. Sekalian saya berpamitan dengan para suster yang sangat berjasa dalam hidup saya namun jika bertemupun suatu saat nanti saya tidak akan bisa mengenali mereka satupun. Karena semenjak saya ditangani di IGD covid di RS swasta sebelumnya sampai sekarang ini, seluruh tenaga medis dan petugas kebersihan menggunakan baju astronot atau hazmat full saat bertemu saya. 
Bahagia sekali rasanya ketika anak-anak dan istri saya datang. Ingin rasanya untuk langsung memeluk mereka. Apadaya saya masih diperintahkan dokter untuk tetap isolasi diri untuk 2 minggu ke depan, jaga-jaga untuk tidak menularkan atau ketularan lagi virus ini. Virus ini virus baru. Jadi untuk sekarang tidak ada seorang dokter pun yg tahu pasti bagaimana karakter virus ini. Dan menurut dokter, walaupun imun tubuh saya sudah mengenali virus ini, seperti virus flu, tubuh masih bisa saja kalah oleh virus nya dan virus bisa menginfeksi lagi. Disitulah daya tahan tubuh sangat berperan. Apalagi saya yang baru saja pulih dan hasil swab ketiga pun belum keluar. Saya juga diberitahu dokter kalau saya mendapat oleh-oleh dari virus ini berupa bercak bekas infeksi di paru-paru saya yang tidak akan hilang. 

Setelah semua perjalanan ini, saya sangat menyadari betapa pentingnya menjaga imun terutama pada masa pandemi seperti sekarang ini. Alhamdulillah anak-anak dan istri saya saat itu imunnya sedang bagus sehingga tidak tertular walaupun kemungkinan besar sudah terpapar oleh saya. Alhamdulillah dirumah tidak ada orang tua yang tinggal dengan kami yang akan membuat saya sangat merasa bersalah jika beliau tertular oleh saya. Corona ini tidak remeh, dan penularannya sangat gampang. Bahkan untuk orang seumuran saya saja dan tidak memiliki penyakit bawaan, dia tetap nyaris merenggut hidup saya. Saya benar-benar sangat bersyukur mendapatkan dukungan dan pertolongan dari segala penjuru saat itu melalui tangan-tangan keluarga, kerabat, teman, dan kolega-koleganya. Entah bagaimana cara saya membalas semua itu, semoga Allah membalas kebaikan mereka berlipat ganda. Saya benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi saya sekarang jika saat-saat kritis itu saya tidak mendapatkan perawatan. Karena ketika saya lihat foto rontgen paru-paru saya saat kritis itu, ternyata virus sudah menginfeksi 2/3 nya hanya dalam beberapa hari. Kondisi paru saya persis sama dengan kebanyakan pasien PDP suspect covid yang akhirnya meninggal karena terlambat diberikan perawatan. Kita benar-benar kejar-kejaran waktu dengan si virus. Saya jadi berfikir gimana kalo orang yang tidak memiliki biaya, kenalan dokter dan akses kekuasaan terkena virus ini. Sementara saya saja yang alhamdulillah dibantu untuk semua itu, sangat banyak rintangannya walau hanya untuk sekedar tes. Tapi saya percaya Allah itu maha adil. Dia tidak akan memberikan cobaan kepada mahkluknya, melebihi kemampuannya. Dan satu hal lagi yg sangat penting bagi penderita covid. Bagaimana dia bisa membuat dirinya untuk tidak stress dan tidak banyak fikiran agar imun tubuhnya makin bagus. Di RS tantangan terbesarnya adalah karena kita benar-benar harus sendirian. Semenjak saya ke RS pertama kali untuk konsul ke internist hingga pulang dari RS, saya benar-benar sendiri, tidak boleh ada yang mengunjungi. Untungnya masih ada HP dan bisa video call dengan keluarga. Disisi lain, tantangan besar datang dari luar, dengan masih banyaknya masyarakat kita yang tidak teredukasi bagus terkait covid ini, mereka malah membuat si pasien dan keluarganya makin stress dengan sikap menjauhi dan mengucilkan orangnya, bukan penyakitnya. Padahal mungkin dengan saling menguatkan, akan sangat besar pengaruhnya untuk kesembuhan si pasien. 

Tidak hentinya saya bersyukur karena saya masih diberi kesempatan oleh Allah untuk menjalani hidup. Semoga ini bisa jadi pelajaran berharga buat saya untuk dapat menjadi lebih baik lagi kedepannya dalam Habluminannas dan Habluminallah. Orang bilang life begin at 40, tapi bagi saya life begin at 38.


NB
Tulisan ini dibuat hanya untuk berbagi pengalaman, tidak ada niat untuk menyudutkan pihak manapun. Untuk yang masih sehat ayo jaga kesehatan, jaga imunitas, stay at home, dan jaga physical distancing jika harus keluar. Apalagi sekarang ini angka positif covid sudah diatas 3000an orang dan bisa jadi jumlah PDP sudah berkali-kali lipat diatas angka tersebut. Walaupun segala pengaturan dan upaya telah dilakukan pemerintah untuk penanganan yang lebih baik saat ini, akan tetapi ruang perawatan, fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan yang kita miliki jumlahnya terbatas. So please.. Let's do it. Bukan hanya untuk diri kita sendiri, tapi juga demi keluarga, tetangga, teman, masyarakat dan tentunya demi tenaga medis yang sudah berjibaku dalam melawan pandemi itu. Bersama, kita pasti bisa.


Demikian sedikit tulisan mengenai  Perjalanan Menjadi Pasien Covid-19 di Awal Pandemi

Jika artikel ini bermanfaat silahkan di share !!!

Jika ada kritik dan saran silahkan tulis di kolom komentar !!!

0 Response to "Perjalanan Menjadi Pasien Covid-19 di Awal Pandemi"

Posting Komentar