Bahagia dalam Rumah Tangga itu Berbeda-beda Caranya


Bahagia dalam Rumah Tangga itu Berbeda-beda Caranya

"ASLI bun....aq pernah suatu kali di temani suami nyuci piring...padahal sambil bicara2...dan suami bantuiin narok iin piring di dekat dapur...duuh bahagianya Luar Biasa..

Dalam percakapan di ruang chat ujug-ujug terbaca kalimat di atas. Itulah ungkapan seorang istri atas apa yang ia alami. Bahagianya seorang istri sederhana ya. Mungkin sebelumnya belum terjalin komunikasi dengan baik. Sebagian orang berpikir nyuci piring atau pekerjaan rumah tangga itu pekerjaan perempuan.

Baca Juga : Jangan Membanding bandingkan Hidup Kita

Seperti yang dialami suami saya ketika berbelanja di warung sayur. Dia ceritakan pengalamannya sambil tertawa. Saat belanja mendapati dirinya laki-laki satu-satunya di warung sayur. Kemudian ibu-ibu menanyakan keberadaan istrinya (saya). Saat belanja, ada ibu-ibu yang membantu memilihkan sayuran. Bukan sekali dua kali suami saya mendapati respon seperti itu. Mendengar suami bercerita kejadian di warung saat belanja kami tertawa bersama.

Suami saya hampir tiap pulang kantor biasanya telepon atau kirim pesan di WAG keluarga, "ayah pulang nanti mau nitip apa?"
Bila leluasa dan tidak terlalu larut ia belanja sesuatu yang dipesan kadang juga tanpa diminta ia membawa sesuatu. Seringnya bawa makanan. Kadang dia juga turun ke dapur buat sarapan kami atau masakan untuk makan malam atau camilan.

Sebagian mengira pria atau suami romantis itu yang suka memuji dengan kata-kata yang melambungkan rasa ke awang-awang. Romantis tidak selalu kata-kata yang enak di dengar tapi juga apa yang dilakukan. Cari aja hal apa yang dia suka lakukan lalu maknai dan beri hikmah. Perempuan umumnya memang suka dipuji biarpun digombali kadang seneng, hahaha iya ga sih? Sebaliknya bila tersakiti oleh kata-kata bisa ia bawa sampai mati.

Ada yang merasa suami itu perhatian kalau mau membantu seperti yang dilakukan dalam percakapan di atas. Sebelumnya ibu tersebut belum tahu tentang bahasa kasih. Setelah ia belajar dan tahu apa bahasa kasihnya dan bahasa kasih suaminya, relasinya jadi semakin baik. Ia merasa ternyata suami bisa romantis, bisa mengerti perasaannya. Sebenarnya ketika ia melihat suaminya melakukan aktivitas membantu dia menyimpan peralatan makan yang merupakan bahasa kasihnya dia pelayanan, maka ibu tersebut merasa dicintai. "Duh bahagianya luar biasa."

Suami mau nyapu, ngepel, cuci peralatan makan dan alat masak, nyuci pakaian (di mesin), belanja ke warung tanpa saya minta tolong semua yang dilakukannya selama ini, menawarkan antar jemput ketika saya hendak pergi atau pulang dari satu urusan, bila saya tidak memahami bahasa kasih saya dan bahasa kasihnya, saya tetap merasa tidak dicintai dan menganggap itu kan memang kebiasaan dia, maunya dia. Nah kalau gitu saya termasuk orang yang tidak bersyukur dong, padahal ada banyak istri yang ingin suaminya mau terlibat dan membantu melakukan pekerjaan rumah tangga termasuk mengasuh dan mendidik anak.

Baca Juga : Doa ibu Mempercpat Kesuksesan

Saya sering terkaget-kaget mendengar suara tetangga yang meneriaki istrinya dengan menyebut namanya, meminta melakukan sesuatu sambil dimaki-maki. Hampir setiap hari saya juga mendengar istrinya meneriaki anaknya dan ngomel nyerocos. Saat itu juga saya bersyukur suami saya tidak melakukan apa yang dilakukan orang tersebut juga saya merasa malu, saya juga kadang bicara tidak dengan lemah lembut. Perlu latihan, latihan, latihan, berupaya sungguh-sungguh, hingga meningkat menjadi lebih baik.

Bila anak laki-laki sedari kecil relasinya baik dengan ibunya, kemungkinan besar ia juga akan memperlakukan istrinya dengan baik. Anak yang merasa dicintai, dihargai, diterima oleh orang tuanya akan berperilaku baik. Ia mendapat contoh dari ibunya memperlakukan dirinya dengan kelembutan tutur kata dan sikap yang baik. Dari ayah yang sering membersamai anak laki-laki, ia mendapat contoh figur pemimpin. 

Sebaliknya, anak laki-laki yang diperlakukan kasar oleh ibunya, tangki cinta dari ibunya kritis, anak diberi perhatian saat berbuat salah, suatu hari anak tersebut berkeluarga, ia juga memperlakukan perempuan yang jadi istrinya diperlakukan secara kasar. Perempuan pada dasarnya baperan, bisa berantakan perasaannya. Dampaknya anak jadi pelampiasan kekesalan sang istri yang menjadi ibu bagi anaknya.

Sementara anak perempuan yang sering mendapat perlakuan kasar dari ayahnya, ada kalanya dia mendapat pasangan yang juga seperti bapaknya. Memilih suami yang tidak disukai orang tua dan beberapa rumah tangga perempuan yang sering dikasari ayahnya, berujung pada perceraian. Ada yang anaknya jadi sasaran pelampiasan kebencian ibunya terhadap ayahnya. Ibu dan anak sering cekcok, adu mulut, dan ketika anak dewasa, meninggalkan ibunya, tidak peduli, mendekat saja tidak mau.

Saya pernah mendapati suami istri yang membawa anak remajanya untuk terapi, ia menceritakan relasi sang ayah dengan bapaknya. Menjelang meninggal bapaknya ia baru memberanikan diri untuk menggenggam tangan ayahnya. Saking dulunya dia sering dimarahi, dan diperlakukan kasar oleh bapaknya, ia bersikap masa bodoh dengan bapaknya. 

Lalu bagaimana relasi ayah tersebut dengan anaknya dan istrinya? Dia juga menyadari selama sebelum berjumpa dengan saya, sering mengabaikan perasaan anaknya juga istrinya. Kadang dia juga tidak pulang ke rumah padahal jarak kantor ke rumah ditempuh tidak lebih dari satu jam. Ia memilih tidur di mess. Istrinya merasa persoalan yang dialami anaknya juga bersumber dari dirinya. Sehingga ia meminta saya membantunya. Setelah terapi ia memiliki sudut pandang berbeda, hati yang lebih lapang walau suaminya tetap jarang pulang dengan alasan kalau di rumah pusing berisik suara anak-anak. 

Hari itu suaminya menyadari bahwa melalui persoalan anaknya, Tuhan menegur dirinya untuk menjadi ayah dan suami yang baik. Mau memaafkan dirinya, bapaknya, minta maaf pada istri dan anaknya serta bersikap lebih baik pada keluarganya.

Sebagai penutup tulisan ini, bangun dan kembangkan komunikasi yang memberdayakan. Terus belajar dan bertumbuh karena belajar itu hukumnya wajib agar senantiasa mendapat kebaikannya. Memaafkan dan meminta maaf perlu dilakukan agar energi dalam keluarga menjadi lebih positif. Senantiasa fokus pada kebaikan dan perbaikan.

Baca Juga : Dosa yang Merusak Pernikahan

Semoga kehidupan rumah tangga Anda, saya dan rumah tangga anak keturunan masing-masing samawa.

Demikian artikel sederhana mengenai Bahagia dalam Rumah Tangga itu Berbeda-beda Caranya

Jika artikel ini bermanfaat silahkan di share !!!

Jika ada kritik dan saran silahkan tulis di kolom komentar !!!

daftarkan email anda untuk berlangganan artikel dengan gratis !!

0 Response to "Bahagia dalam Rumah Tangga itu Berbeda-beda Caranya"

Posting Komentar