Kapan Epidemi virus Corona Ini Berakhir?



Kapan Epidemi virus Corona Ini Berakhir? 


Sejak issue "Corona" mengemuka di bulan Februari 2020, saya sama sekali tidak menjadi takut.  Saya keluyuran ke berbagai negara dan berbagai kota untuk menjalankan tugas saya.  Saya baru berhenti di sebuah tempat kalau jalur transportasi ditutup.  Itu semua saya lakukan bukan karena saya sok berani, sembrono dan ngeyelan.  Justru semenjak saya mengerti apa itu spiritualitas yang sesungguhnya, saya jadi sangat berhati-hati.  Saya selalu hening sebelum mengambil keputusan, saya hanya jalani apa yang mendapatkan lampu hijau dari Diri Sejati yang bertahta di pusat hati.  Saya juga tidak sembarang percaya pada berita apapun sebelum itu saya selami sendiri kebenarannya, meski itu dilabeli temuan sains dan dipromosikan media mainstream.  Nyatanya, meski saya keluyuran dan saat masker belum diwajibkan pemerintah ya ke mana-mana tanpa masker,  saat rapid test covid 19 hasilnya selalu negatif.  Saya dua kali menjalani rapid test ini 2 x di bulan Mei 2020 di jaringan RS Siloam. Secara nyata badan saya memang segar bugar dan sangat fit.   Saya juga selalu memantau murid-murid saya yang tersebar di banyak tempat.  Sebagian mereka juga suka keluyuran.  Hingga detik ini belum ada satupun yang teridentifikasi terkena virus yang lagi beken ini.  


Apa pesan penting dari paparan di atas? Saya benar-benar tidak punya teman yang sungguh-sungguh terkena virus covid 19.  Bagi saya virus ini benar-benar hanya sebuah cerita.  Bagi yang selalu hening, sebetulnya gak ada bahaya yang menyeramkan.  Coba Anda cermati sendiri, siapa teman atau saudara Anda yang benar-benar kena covid? Jangan-jangan Anda ya sama saja dengan saya, cuma dengar katanya, cuma tahu dari berita.  

Yang kedua, imunitas kita yang paripurna karena kita jernih jiwanya dan bahagia, akan membuat kita sehat terbebas dari virus apapun. 

Hari-hari ini banyak yang bertanya, "Kapan masalah " Corona" ini berakhir? "  Yang bertanya ini bermacam-macam latarnya.  Ada yang pengusaha terdampak, bisnisnya lesu dan harus merumahkan karyawan.  Ada yang pekerja harian yang repot cari makan karena ekonomi setengah lumpuh.  Banyak yang merasa tertekan dan ingin kehidupan pulih seperti semula   

Begini saudara-saudari yang saya kasihi, issue ini berkepanjangan karena banyak kelompok penekan yang membuat kebijakan pemerintah muncul, merupakan bagian dari mereka yang menjadi perancang issue Corona dengan target politik ekonomi tertentu   Dan lainnya adalah orang-orang yang sok ilmiah, tapi di kepalanya cuma berisi dongeng dan prasangka, dan mereka menjadi pion dari kelompok pertama.  Sementara, soal penyelesaian issue ini sangat tergantung dari kebijakan pemerintah dan pusat.  Dalam hal ini, Presiden Jokowi cuma salah satu aktor pengambil kebijakan.  Banyak aktor lainnya.  Bahkan ketika Presiden dengan kesadaran yang murni mau membuat issue ini selesai segera agar rakyat terbebas dari penderitaan akibat ekonomi yang mandeg, tak semudah itu dia bisa lakukan.  Dia harus pertimbangkan dukungan dari orang-orang di sekelilingnya dan bagaimana manuver para oposan yang terus mencari celah untuk menjatuhkannya. 

Baik, mari kita sama-sama berpikir tentang solusi.  Pertama, mau tidak mau kita harus sepakat dulu sebetulnya yang kita takutkan ini virus apa dan tingkat bahayanya bagaimana.  Sejak pertama saya sering terangkan di status saya, jika merujuk ke virus yang ada di Wuhan, itu tingkat bahayanya cuma di skala 1 dalam skala 1-10.  Saya membenarkan apa yang dikatakan Menkes Terawan dan apa yang dipromosikan Presiden RI dulu.  Lalu, saya juga pernah bilang di Indonesia tak ada Corona jika merujuk kepada virus yang ada di Wuhan. .  Cuma saya belum bisa menjelaskan argumentasi saya dalam bahasa ilmiah karena saya bukan ilmuwan yang bergerak di riset virus.  Tapi pertimbangkan data pendukung, 1) Bali yang banyak didatangi turis China ternyata jumlah yang terpapar dan meninggal sangat sedikit.  2) Lembaga Biologi Molekuler Eijkman merilis bahwa tipe virus "Corona" di Indonesia berbeda  dengan tiga tipe lain virus Corona yang telah dikelompokkan secara global, yaitu tipe S, G dan V. 

Saya perlu sampaikan sebetulnya apa yang terjadi.  Virus itu sebetulnya realitas yang misterius karena keberadaannya tak bisa dijangkau dengan panca indra secara langsung.  Hanya bisa didekati lewat observasi mikroskopik itupun dengan upaya penyimpulan berdasar data indikasi.  Dalam kacamata spiritual virus ini bisa muncul jika ada pengaruh dari energi destruktif dari dark force dengan segala jenisnya.  Saya memperhatikan betul, selama issue pandemi ini muncul, kekuatan dark force sepanjang Pantai Selatan Jawa sangat intens bermain.  Kekuatan mereka ini bisa mempengaruhi siapapun yang jauh dari keheningan, kepalanya penuh ketakutan karena kebanyakan percaya media mainstream maupun medsos.  Mereka yang lemah bisa kena dan sakit dengan gejala yang mirip dengan Corona di Wuhan.  Itu adalah proyeksi sakit psikosomatik.  

Saya kemudian baru mengerti dari paparan Dr. Kaufman bahwa sebetulnya penentuan jenis virus apa yang menjangkiti para korban sebetulnya sangat tidak ilmiah.  Banyak cocoklogi.  Jadi cuma dilihat DNA/RNA inang untuk diketahui sequen genomnya, ketika dilihat mirip setidaknya 70% dianggap itu Corona.  Nah, sebenarnya secara saintifikpun penetapan kesimpulan bahwa yang sedang mendera Indonesia adalah Corona masih sangat bisa diperdebatkan.  Jika mau ketemu kebenaran, virusnya harus dimurnikan dulu, jangan periksa exosomnya, supaya ketahuan benar ini virus apa.  Jadi yang dilihat bermutasi ini adalah exosom, keberadaan mikroskopik yang justru ada di tubuh untuk menjalankan fungsi imunitas terhadap virus.  

Sungguh menggelikan bukan, satu negara dibuat goncang dan nyaris lumpuh oleh issue yang mengatasnamakan sains? 

Tentang bahaya, mari kita lihat data.  Kasus meninggal per 20 Mei 2020 adalah 1,242.  Yang sembuh 4,575.  Itu angka untuk durasi 2 bulan sejak issue ini menggelinding.  Konon katanya obat Corona belum ada sehingga kita layak khawatir.  Lah, yang sembuh 4,575 orang itu diapain? Minum jamu? Sembuh sendiri? Atau bagaimana? Jadi, karena angka yang sembuh banyak ya tak ada yang harus ditakutkan.  Terlebih soal angka meninggal kita masih harus memfilter, berapa yang murni karena covid dan bukan karena sakit berat sebelumnya? Jadi, kesimpulannya virus ini apapun namanya gak bahaya amat.  Gak kejadian tuh yang dinujumkan para ilmuwan dodol bahwa ada puluhan ribu, ratusan ribu atau jutaan orang Indonesia mati karena Corona.  

Jika kita mau kembangkan antisipasi secara medis, maka pertama kita sendiri yang harus buat vaksin dan obatnya karena virus di sini beda dengan di China atau A'S.  Jangan pakai vaksin dari Bill Gates, nggak nyambung.  Cukup kita pakai software komputer dari dia.  Untuk urusan ini kita harus mandiri.  Langkah berikutnya, ya bisa terapkan terapi plasma kovalesen, karena itu pasti efektif.  Tak peduli apa nama virusnya yang pasti kita sudah punya obat yang ada di dalam darah pasien yang sembuh. 

Menimbang paparan di atas, maka Pemerintah RI perlu membuat kebijakan yang tepat.  Kita harus selamatkan bangsa secara utuh, secara kesehatan aman, secara sosial, budaya dan ekonomi aman.  Mei ini biar puas-puasin yang mau PSBB.  Awal Juni 2020 harus keluar kebijakan untuk membuka kembali kegiatan sosial, budaya dan ekonomi.  Kita lanjutkan membangun bangsa yang besar.  Abaikan para penyinyir dan kaum paranoid.  

Seiring dengan itu, buat kebijakan yang memastikan layanan kesehatan kita semakin efektif.  Semua instrumen pelayanan kesehatan didayagunakan termasuk puskesmas.  Yang terdeteksi postif (entah virus apa namanya) dan sakit parah (karena ada penyakit lain) rawat secara intensif di instalasi khusus.  Yang terdeteksi postif tapi cuma sakit ringan ya biar berobat biasa, dirawat di rumah sembari rawat jalan.  Jadi gak bakal ada drama kekurangan ruang perawatan dan tenaga medis. 



Edukasi masyarakat agar hidup dengan pola yang sehat, berbahagia, punya imunitas yang kuat.  Sarankan pake masker tapi gak usah diwajibkan.  Biasa aja, buat kebijakan dengah dasar kesadaran tubuh kita ini istimewa, dirancang untuk kebal dari semua virus asal tidak dirusak sistemnya oleh diri sendiri. 

Demikian tulisan ini saya buat dalam hening tapi sembari gemes menyaksikan bangsa ini begitu mudah dibodohi. 

Bangunlah, Anda adalah pewaris genetika bangsa yang agung 

Demikian artikel sederhana mengenai Kapan Epidemi virus Corona Ini Berakhir? 

Jika artikel ini bermanfaat silahkan di share !!!

Jika ada kritik dan saran silahkan tulis di kolom komentar !!!

daftarkan email anda untuk berlangganan artikel dengan gratis !!

0 Response to "Kapan Epidemi virus Corona Ini Berakhir? "

Posting Komentar