Kamis, 05 November 2020

KISAH NYATA - ANAK DURHAKA MENJUAL RUMAH ORANG TUA



KISAH NYATA - ANAK DURHAKA MENJUAL RUMAH ORANG TUA

Sebentar lagi kehilangan seorang ibu tetangga yang selalu ramah. Beliaunya dipaksa menjual rumah warisan suaminya oleh kedua anak lelakinya. Adapun anak-anak perempuannya cuma bisa pasrah.


Dua anak lelaki yang justru harusnya mencukupi kehidupan ibunya ini malah mengusir ibunya dari rumah tempat mereka dibuai dan dibesarkan ibunya.


Kalau sekedar cerita itu mungkin sudah biasa dimana-mana. Tapi kali ini ada bumbu kebiadaban.


Saat notaris menjelaskan bahwa istri juga punya hak atas sebagian harta waris suami, seorang anak lelakinya menjawab,


"Buat apa ibu sudah tua dapat warisan segala. Wong sebentar lagi mati. Saya cekik aja sudah mati."


Sebab ucapan itu, ibunya selalu takut tiap anak lelaki itu datang ke rumahnya. Khususnya beliau sangat khawatir saat sedang shalat, karena pada momen ini posisi beliau membelakangi pintu kamar. Sewaktu shalat, tiap ada bunyi di belakang beliau langsung kaget & merinding sembari bersiap-siap. Takut kalau-kalau itu anak lelakinya yang sudah dalam posisi mau mencekik dirinya.


Kemarin pagi sebagian barang sudah dilemparkan dari dalam rumah diiringi teriakan anak lelaki yang satunya. Rumahnya sudah laku. Sebentar lagi ibu tua tersebut akan berpisah dengan rumah yang penuh kenangan almarhum suaminya, tempat beliau membesarkan anak-anak yang kini mengusirnya. Berpisah dengan para tetangga yang sudah puluhan tahun hidup bersama hampir tanpa ada masalah.


Rencananya beliau akan ikut tinggal bersama salah seorang anak perempuannya. Hidup di lingkungan asing, sembari menunggu ajal menjemput.


Kenapa saya bisa tahu sedetail itu? Karena beliaunya sendiri yang cerita ke ibu saya dengan banjir air mata.


Saya sendiri menyimak kisahnya sambil seolah mendengar ibu saya berkata, "Awas yo koen kurang ajar koyok arek iku."


Saya cerita ini sekaligus buat kita introspeksi. Jangan-jangan sudah muncul bibit kebiadaban kita pada orang tua. Coba direview interaksi kita dengan orang tua selama ini.


Jangan sampai terjadi seperti pepatah para sesepuh kampung saya,


"Lek ngerti raimu kurang ajar ngene, ket ndisik orokmu tak buak nang sampah."


Maklum, orang surabaya cenderung kasar dan blak-blakan.


0 komentar:

Posting Komentar