Selasa, 05 Januari 2021

Nasib Jack Ma dan Alibaba

 


Nasib Jack Ma dan Alibaba

#jakma #alibaba #alipay


Jack Ma ternyata sahamnya hanya 6% di Alipay. 63% saham Alipay & 33% saham Alibaba dikuasai oleh Silver Lake, Jim Davidson. Nama Davidson tidak terkenal seperti Jack Ma.


Pada tahun 1999 sehari sebelum China bergabung dalam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Jack Ma ( Ma Yun) mendirikan Alibaba di Hangzhou. Ia diuntungkan dari adanya liberalisasi ekonomi di bawah Jiang Zemin. Jack Ma bisa leluasa megembangkan Alibaba tanpa ada restriksi berlebihan dari pemerintah China. 


Tahun 2004 ia mendirikan Alipay, sebuah aplikasi pembelian & pembayaran online di eCommerce Alibaba. Tentu berdampak luas terhadap Alibaba. Bukan hanya eCommerce tetapi juga menjadi aplikasi pembayaran raksasa bagi pengguna selular. Melayani lebh dari 1,3 miliar user global. 


Dari Alipay itu dia mendirikan anak perusahaan Ant Financial Group. Ant juga sebagai provider tekhology untuk FinTech bagi perusahaan asuransi & perbankan.


Sebetulnya raksasa eCommerce & alat pembayaran online, bukan hanya Jack Ma tetapi ada juga Pony Ma pendiri Tencent. Namun nama Pony Ma tidak setenar Jack Ma. Kalau Pony Ma lebih memilih diam & terkesan misterius. Namun Jack Ma sengaja membuat dirinya terkenal & menjadi pusat perhatian dunia. 


Jack Ma bagaikan superstar yg tampi di panggung dunia. Menjadi pusat perhatian pada pertemuan pengusaha kelas dunia di Davos. Kebetulan bahasa Inggrisnya bagus dibandingkan pengusaha China lainnya, sehingga dia benar² menjadi orator hebat & juga motivator bagi kalangan bisnis pemula di bidang IT. Setidaknya dg itu, Jack Ma adalah satu²nya pengusaha China yg dapat pengakuan international.


Sebatas itu tidak ada masalah bagi pemerintah China. Namun menjadi lain ketika Jack Ma sudah mulai berani mengkritik Pemerintah. Dg lantang dia menyindir otoritas China yg masih menerapkan aturan jadul yg sehingga menghambat proses inovasi IT. 


Tapi ia mendapat angin segar dari rakyat China & dunia. Bahwa Jack Ma membawa pesan pembaharuan. Bahwa FinTech adalah era Ma. Bicara tentang FinTech tidak lepas dari Jack Ma.  Tentu keadaan ini membuat Pemerintah Xi Jinping gerah. 


Baca Juga : Berhentilah Nyinyir atas Postingan Orang di Facebook


“ Tidak ada yg disebut era Ma Yun, tetapi Ma Yun adalah bagian dari era China… tidak peduli apakah itu Ma Yun, Ma Huateng, Elon Musk, atau kita orang biasa, mereka yg mencapai potensi terbesar mereka adalah mereka yg merebut  peluang yg disediakan oleh pemerintah China. “ 


Demikian kata juru bicara Partai Komunis sebagaimana dikutip oleh  People's Daily online. Itu sinyal keras. Bahwa pemerintah China tidak suka dg cara & sikap Jack Ma.


Ada yg dilupakan oleh Jack Ma. Bahwa dia bisa berkembang karena regulasi yg longgar dari pemerintah China dalam rangka mendukung inovasi financial technologi. Tujuan pemerintah China tentu berharap dg kemajuan FinTech ini bisa memberikan akses kepada rakyat China mendapatkan jasa perbankan & lembaga keuangan dg mudah & murah. 


Namun yg jadi masalah, kemajuan Alipay tidak seperti Philosofi pemerintah China terhadap FinTech. Sistem alat pembayaran Alipay telah menjadi rentenir yg memeras rakyat kecil. Tidak ada transparansi. Kalau bunga pinjaman dijanjikan 0%, ternyata rakyat dibebani diatas 15%. Belum lagi soal tabungan lewat FinTech yg tidak jelas tingkat bunga & jaminan resiko. Lama² sudah menjelma menjadi bisnis Ponzy.


Disamping itu tidak ada upaya Jack Ma secara serius mendorong kewirausahaan dibidang IT di China. Bahkan keberadaan Alipay & Alibaba mematikan kompetisi. 


yg dia katakan tentang kepedulian kepada dunia usaha kecil China, tidak sesuai dg kenyataan. Ternyata penyebabnya adalah Jack Ma sendiri bukanlah pengedali atas saham Alibaba & Alipay ( Ant Financial Group). 


Dia hanya menguasai segelintir saham. Sisanya dikuasai oleh konglomerat Venture Capital Wallstreet & Jepang. Mereka menjadi pengendali. Jack Ma hanya boneka dari konglomerat Hedge Fund. 


Menurut teman di Beijing, ”Jack Ma pernah bicara di depan forum wirausahaan. Dia mendukung protes di Hong Kong khususnya dalam memilih pemimpin Hong Kong".


Sebelum rencana Ant Financial Group (Alipay) IPO, otoritas bursa di Shanghai sudah minta keterbukaan informasi kepada Jack Ma & petinggi Alipay. Namun sampai menjelang IPO, belum juga ada laporan keterbukaan yg memuaskan otoritas. Itu sebabnya dua hari menjelang IPO, otoritas membatalkan rencana IPO Alipay. 


Jack Ma meradang. Berbicara di hadapan publik, "Seharusnya otoritas tidak hanya bicara tentang aturan di atas kertas. Tetapi membuat aturan yg memberikan solusi untuk berkembang."


Otoritas China tidak terpengaruh dg omongan Jack Ma itu. 


Justru, setelah pembatalan IPO Alipay, beberapa hari kemudian, China meluncurkan aturan baru tentang antitrust, yg memangkas miliaran dolar dari kapitalisasi pasar Alibaba, dan Desember 2020 regulator melakukan penyelidikan antimonopoli ke group perusahaan Jack Ma. 


Baca Juga : 7 Hikmah Unfried Teman di Facebook


Cukup? Belum.  


Pada hari Minggu (27 Desember), Bank Central China mengumumkan bahwa mereka telah memerintahkan eksekutif Ant Financial Group untuk merombak bisnisnya guna mengatasi masalah kepatuhan berkaitan dg kredit, asuransi, dan kekayaan, dan tidak boleh terlibat dalam skema pinjaman arbitrase. 


Tuntutan tersebut dapat mengarah pada restrukturisasi besar²an dari Unicorn FinTech Alibaba & Alipay. Dan pasti akan menjatuhkan saham Alibaba di bursa NY.


Menurut saya, apa yg terjadi pada Jack Ma, tak lebih bagian dari POLITIK NASIONALISME CHINA, yg melihat resiko atas kehadiran perusahaan IT yg dimodali dari AS, Jepang, Eropa & India. 


Resiko terbesar yg dikhawatirkan adalah terjadinya Shock FinTech yg bisa berdampak sistemik terhadap moneter China. 


Misal, pinjaman publik & skema pembayaran kepada pihak ketiga lewat FinTech dg aturan arbitrase, itu sangat beresiko terhadap gagal bayar publik, dan ini bisa memaksa negara bailout. FinTech tetap harus melakukan skema non arbitrase. Tidak boleh secara hukum memaksa orang membayar utang. Jack Ma masuk terlalu jauh dalam bisnis keuangan. Itu sudah melanggar hukum.  Karena dia hanyalah perusahaan penyedia tekhnologi untuk alat bertransaksi & pembayaran.


Jack Ma harus belajar bijak sebagai orang China. Yg mengutamakan kerendahan hati & PATUH KPD POLITIK NEGARA. Dia harus belajar dari Pony Ma yg tak pernah menyebut dirinya “ Aku “ tetapi “ Kami “. 


Atau seperti Zhong Shanshan sang taipan China, orang terkaya nomor 1 di ASIA & nomor 11 di dunia yg tak pernah bersuara di hadapan publik & terkesan penyendiri. 


Baca Juga: 7 Hal yang Harus di Hindari di Sosmed


Budaya China adalah kebersamaan, dan kejujuran. Tidak ada yg superior, kecuali negara. Saya yakin bahwa Jack Ma tidak akan dihabisi seperti Wu Anbang. Dia hanya diperingatkan agar patuh. Dia terlalu berharga bagi pemerintah China. Apalagi dia juga adalah kader Partai Komunis. Dan saya yakin Jack Ma akan berubah.

Semoga bermanfaat

Demikian sedikit tulisan mengenai Nasib Jack Ma dan Alibaba

Jika artikel ini bermanfaat silahkan di share !!!

Jika ada kritik dan saran silahkan tulis di kolom komentar !!!

0 komentar:

Posting Komentar